Memories, You and I

Title                 : Memories, You and I

Author             : Ranifa Billy

Cast                 : Luhan, Wu Yifan

Genre              : Romance

Type                : Songfic (Evanescence – You)

A/N                 : Ini pertama kalinya aku menulis Songfic. Mungkin alurnya aneh. Yang aku cetak miring adalah lirik lagunya. Aku menulis ini karena aku suka lagunya dan aku rasa, lagu ini cocok dengan kisah FanHan, haha~ Semoga kalian suka! Selamat membaca~

~~~

Bunyi dentingan piano menggema di sudut ruangan yang luas itu. Ruangan itu terlalu luas jika disebut sebagai kamar tidur. Namun, begitulah kenyataannya. Pemilik dari kamar itulah yang sedang memainkan nada-nada dengan grand piano-nya.

Seorang pemuda dengan rambut pendek berwarna hazel, kedua mata yang indah dan bulu mata yang lentik, hidung mancung yang mungil, pipi bersih dan halus, serta bibir mungil berwarna peach yang kissable. Sekali lagi, dia adalah seorang pemuda, bukan gadis. Kedua orang tuanya, memanggilnya Luhan. Dalam kosakata China berarti rusa di pagi hari.

Pemuda bernama Luhan itu memainkan sebuah melodi dengan tempo lambat. Sekali waktu, dia berhenti sejenak, seperti merenungkan sesuatu. Namun, tak lama setelah itu, dia kembali memainkan kesepuluh jemarinya di atas tuts piano.

The words have been drained from this pencil
Sweet words that I want to give you
And I can’t sleep
I need to tell you
Goodnight

Diambilnya sebuah pensil dan menuliskan nada yang ditemukannya tadi. Luhan ingin mempersembahkan karyanya tersebut kepada orang yang sangat dia cintai—setelah kedua orang tuanya. Orang yang sering membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkannya. Orang yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat ketika berada di dekatnya. Orang yang diinginkannya untuk selalu berdiri di sampingnya. Orang yang selalu memberinya ketenangan jika dia gugup. Orang yang bisa membuatnya tersenyum hanya dengan melihat wajah tampannya.

When we’re together, I feel perfect
When I’m pulled away from you, I fall apart

Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka merupakan pasangan yang sempurna. Ketika berjalan berdampingan, berpasang-pasang mata manusia yang melihat akan merasa iri, dan memuji keserasian mereka. Bak pangeran dan tuan putri dari dunia fiksi remaja.

Luhan sendiri juga merasa sangat nyaman ketika berjalan berdampingan dengan sosok tinggi yang amat dicintainya itu. Dia merasa sangat beruntung dapat bersama dengan orang itu. Namun, Luhan akan merasa kesepian jika berjalan seorang diri atau jika bukan orang itu yang berjalan di sampingnya. Meski bibirnya membentuk sebuah senyuman manis, namun kedua matanya menyiratkan kesedihan.

All you say is sacred to me
Your eyes are so blue
I can’t look away
As we lay in the stillness
You whisper to me

Hal yang paling Luhan sukai dari sosok tampan itu adalah ketika dia berbicara. Luhan suka mendengarkan suara beratnya. Orang itu tidak terlalu banyak berbicara jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan. Jadi, Luhan akan medengarkannya dengan baik ketika dia mulai berbicara seraya mengagumi wajah tampannya.

Ada sekali waktu ketika Luhan mengajak orang itu untuk berbaring di rerumputan di halaman belakang rumahnya. Menikmati hembusan angin musim semi yang membawa aroma pohon cherry yang tumbuh di sana dan melihat awan putih yang berarakan di langit biru yang cerah. Saat itu, Luhan dapat mendengar senandung kecil yang keluar dari bibir orang itu. Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bernyanyi.

Mereka terdiam cukup lama setelah bernyanyi. Pandangan mereka masih berada pada langit biru ketika Luhan merasakan sebuah tangan yang lebih besar menggenggam tangannya. Luhan menoleh ke samping dan melihat orang itu tengah menatapnya. Luhan dapat merasakan orang itu perlahan mendekat dan membisikkan sesuatu.

“HanHan, marry me. Promise you’ll stay with me.

Oh, you don’t have to ask me
You know you’re all that I live for
You know I’d die just to hold you
Stay with you

Suara berat dan hembusan napasnya membuat Luhan merinding. Kedua manik mata itu menatap lurus hanya pada Luhan. Dari sana Luhan dapat melihat sebuah keyakinan dari kata-kata yang telah diucap orang itu. Dengan sebuah anggukan ringan namun penuh keyakinan dan senyuman terukir di bibirnya, Luhan menyetujui permintaannya.

“I Promise.”

Somehow I’ll show you
That you are my night sky
I’ve always been right behind you
Now I’ll always be right beside you

Entah bagaimana awalnya, mereka bisa menjadi sangat dekat hingga sekarang. Sampai mereka saling menyatakan perasaan masing-masing. Sebelumnya, mereka hanya bisa saling menatap dari kejauhan. Berkomunikasi dengan tatapan mata dan senyuman. Sekarang sudah berubah. Mereka bisa tetap saling menatap, bahkan dalam jarak dekat. Tidak perlu berkomunikasi seperti ninja. Namun, sekali waktu mereka memang masih membutuhkan berkomunikasi dengan tatapan mata dan senyuman.

So many nights I cried myself to sleep
Now that you love me, I love myself
I never thought I would say this

Pada awalnya, Luhan tidak menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini. Orang yang selama ini hanya bisa dia kagumi dari jauh. Orang yang—dia pikir—tidak bisa dia jangkau. Orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang akan mendampingi hidupnya. Luhan merasa menjadi orang yang paling beruntung bisa menjadi bagian hidup dari orang itu.

I never thought there’d be
You

Wu Yifan.

 

_END_

 

A/N:

Hao! Ini adalah FF teraneh dari sekian banyak FF aneh yang pernah kutulis. Aku tidak mengerti kenapa aku sangat berbakat menulis FF aneh. Aku sengaja menulis nama Luhan berkali-kali dalam FF ini. Alasannya karena… tidak ada alasan. Aku hanya ingin saja, keke~

Sebenarnya aku kurang—atau lebih tepatnya tidak—mengerti maksud dari bait terakhir lagu itu. Tapi, aku pura-pura mengerti saja, haha~ Ah, I’m Alright! Semoga reader-nim suka dan menikmatinya. Untuk yang ini tidak ada posternya, keke~ Terima Kasih sudah membaca. Aku tunggu komentarnya. ^^

14.05.30

Advertisements

Please, Don’t…

Image

Title                : Please, Don’t…

Author            : Ranifa Billy

Cast                : Luhan, Kris, EXO

Genre             : Sad Romance, Hurt/Comfort(?)

Rate               : PG-15

Disclaimer      : Kris (Wu Yifan) milik Luhan. Luhan milik Kris (Wu Yifan). 😀

Warning         : BL, shounen-ai, boyxboy

A/N                 : Karena aku menulisnya agak terburu-buru, jadi, mungkin alurnya terlalu cepat atau bahasanya belepotan. Jika reader-nim punya lagunya Chantal Kreviazuk – Leaving On A Jet Plane, aku rekomendasikan lagu itu ketika membaca ini, keke~ Kenapa? Karena aku menyukai lagu itu. Lebih tepatnya, karena aku mendengarkan lagu itu ketika pertama kali mengetahui kabar mengenai Daddy Kris ini. Uwee~

Yesungdah, selamat membaca!

 

2014.05.15, 07.30 KST

Saat itu, Luhan baru terbangun dari tidurnya. Dia terdiam cukup lama di atas tempat tidurnya sembari mengumpulkan nyawa dan mengingat-ingat apa yang dia mimpikan semalam. Dia mendapatkan mimpi yang aneh. Pada akhirnya, dia benar-benar kesulitan untuk mengingat mimpinya semalam. Dia hanya ingat, memimpikan orang itu. Tapi tidak ingat mimpi tentang apa. Tiba-tiba, dia merasa khawatir.

Ini sudah hari keempat sejak mereka kembali dari Shanghai. Ini juga hari keempat dia tidak melihat sosok pria yang amat dicintainya. Sejak kembali dari Shanghai, Luhan selalu dilingkupi rasa khawatir dan semacamnya setiap kali bangun tidur. Dia juga tidak bisa tidur nyenyak. Dia sangat penasaran, dimana orang itu sekarang. Pasalnya, orang itu tidak memberikan kabar sama sekali dan tidak bisa dihubungi. Itulah yang membuat Luhan khawatir. Orang itu seolah-olah menghilang dari muka bumi. Waktu itu, manager hanya mengatakan bahwa orang itu akan mengunjungi orang tuanya terlebih dahulu dan akan kembali ke Seoul sendiri. Namun, sampai sekarang dia belum kembali.

Luhan mendesah dan beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia dapat melihat beberapa member sudah terbangun, dan beberapa member yang lain mungkin masih tertidur.

Dia melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah setelah sebelumnya mengambil minuman isotonik dari dalam kulkas. Di sana dia menemukan Baekhyun yang sedang berkutat dengan iPad-nya.

“Pagi, Luhan hyung!” sapanya ketika Luhan sudah mendudukkan diri di sampingnya.

“Pagi~”

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya sambil menatap Luhan.

“Eum~ entahlah,” Luhan menyandarkan punggungnya dan meneguk minuman isotoniknya.

“Kau merindukannya?” tanya Baekhyun lagi, masih menatap Luhan.

Pria bermata rusa itu menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Baekhyun, “Tentu saja. Sudah empat hari, dan dia sama sekali belum mengirimkan kabar. Dihubungi juga tidak bisa. Aku jadi khawatir.”

Luhan merasakan ada yang mengusap bahunya. Saat menoleh, dia mendapati wajah adiknya yang menyandang gelar Happy Virus—Park Chanyeol yang tengah tersenyum padanya. “Kami semua juga merindukannya, hyung.”

“Bagaimana menurut pendapat kalian? Apa jangan-jangan dia sakit?” tanya Luhan pada kedua adiknya. Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol hanya saling tatap. Tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku ingin menyusulnya. Tapi aku tidak tahu sekarang dia ada di mana. Bagaimana kalau aku menyusul ke China, tapi ternyata dia sudah ada di Kanada? Aah~ aku benar-benar khawatir~” ucap Luhan. Baekhyun dan Chanyeol bisa mengerti perasaan hyung-nya itu.

“Tenanglah, hyung. Kita berdo’a saja semoga Kris hyung sehat-sehat saja,” ucap Baekhyun seraya merangkul pundak Luhan.

Ternyata yang mereka bicarakan sejak tadi adalah EXO de Duizhang Kris. Memang benar, member paling tinggi itu tidak ikut kesebelas member lainnya kembali ke Seoul setelah mengadakan Showcase di Shanghai empat hari yang lalu. Pria Chinese-Canadian itu hilang begitu saja tanpa memberitahu satupun membernya.

Hal itu membuat kesebelas membernya, terutama Luhan menjadi khawatir. Pasalnya, mereka sedang disibukkan promosi mini album terbaru ditambah dengan persiapan konser tunggal. Namun, pria itu justru menghilang seperti satu tahun yang lalu ketika mereka mempersiapkan comeback pertama. Kesebelas member hanya mendapat kabar dari manager bahwa pria itu mengunjungi orang tuanya. Pada akhirnya, manager sendiri juga bingung kemana perginya Kris.

“EXO-K member segera bersiap-siap!” seru Kyungsoo dari arah dapur. “Suho hyung, kau sudah membangunkan Kai dan Sehun?” tanyanya pada Leader EXO-K yang baru keluar dari kamar mandi.

“Tadi sudah,” jawab pria itu singkat dan melangkah menuju meja makan.

Pria bermata bulat itu hanya menghela napas dan menghampiri Baekhyun dan Chanyeol yang sedang menghibur Luhan, “Masakannya sudah siap. Makanlah!”

Setelah seluruh member menghabiskan sarapan masing-masing, mereka kembali ke aktivitas semula. Keenam member EXO-K bersiap-siap untuk menjalankan jadwal promosi mereka hari ini.

Baekhyun yang sudah selesai bersiap, duduk di ruang tengah sambil memainkan iPad-nya. Air mukanya berubah, banyak tanda tanya muncul di pikirannya. Dia menemukan sebuah artikel dari situs China dan tidak yakin 100% dengan kemampuannya membaca huruf kanji. Dia sangat penasaran karena dalam artikel itu terdapat foto Kris.

“Ini artikel baru,” gumamnya setelah melihat tanggal dalam postingan tersebut. “Luhan hyung!”

Tak lama, Luhan datang dan segera duduk di sampingnya, “Ada apa, Baekhyun-ah?”

“Tolong bacakan artikel ini, hyung. Aku tidak yakin, aku membacanya dengan benar,” ujarnya sambil menyerahkan iPad-nya pada Luhan. “Kenapa ada foto Kris hyung di situ?”

Luhan menerima iPad milik Baekhyun dan segera membaca artikel yang dimaksudnya. Baru beberapa detik, kedua mata rusa milik Luhan melebar. Baekhyun dapat melihat perubahan ekspresi hyung-nya itu, panik.

“Hyung, ada apa? Kenapa wajahmu jadi panik?” tanyanya pelan, takut jika nanti—mungkin—Luhan akan membentaknya. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban.

Pria manis itu terlihat semakin panik, dia meng-scroll-up layar iPad Baekhyun dengan cepat. Sedangkan, Baekhyun justru semakin bingung. Dia dapat mendengar Luhan menggumam dengan bahasa Mandarin yang tidak dimengertinya.

“Hyung, jangan menggunakan bahasa Mandarin saat seperti ini. Kau membuatku semakin bingung~” rengeknya.

“Tidak mungkin,” gumam Luhan setelah meng-scroll-up-down layar iPad Baekhyun.

“Apanya yang tidak mungkin, hyung? Artikel itu membahas apa? Ada apa dengan Kris hyung? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Baekhyun bertubi-tubi. Dia benar-benar membutuhkan informasi sekarang.

“Dia…” Baekhyun mendekatkan tubuhnya pada Luhan ketika pria itu mulai berucap. “Kenapa dia melakukan itu?” lanjutnya, dengan suara pelan.

“Melakukan apa, hyung?” tanya Baekhyun lagi. Sejak tadi dia belum mendapat jawaban satupun dari sekian banyak pertanyaan yang dia lontarkan pada Luhan.

Tanpa menjawab, Luhan mengembalikan iPad Baekhyun dan beranjak pergi menuju kamarnya. Saat itu, dia berpapasan dengan Lay. Pria itu menatap punggung Luhan—yang berjalan dengan tergesa-gesa—dengan bingung. Kemudian menatap Baekhyun.

“Yak! Luhan hyung! Kau belum membacakannya untukku~” serunya.

Lay kemudian duduk di sampingnya, “Ada apa, Baekhyun-ah? Kenapa dengan Luhan ge?”

“Aku tidak tahu, hyung. Tiba-tiba dia jadi seperti itu setelah membaca artikel ini,” jelasnya sambil menunjukkan artikel yang tadi dia berikan pada Luhan. “Bacakan untukku, hyung! Terjemahkan sekalian,” pintanya.

Lay menerima iPad Baekhyun dan membaca artikel yang dimaksud, “EXO Kris menggugat SM Entertainment dan ingin mengakhiri kontraknya dengan EXO. Apa?!”

“APA?!” seru Baekhyun hingga mengundang beberapa member.

“Kenapa kau berteriak, hyung!” seru Sehun.

“Ada apa? Kenapa kau berteriak sekeras itu?” omel Suho.

“Kenapa teriakkanmu tidak seperti biasanya, Baekhyun-ah?” tanya Chen.

“Artikel itu…” ucap Baekhyun sambil menunjuk iPad-nya yang masih berada di tangan Lay.

“Artikel apa?” Suho berjalan menghampiri Lay dan melihat apa yang ‘dilihat’nya.

“EXO Kris menggugat SM Entertainment dan ingin mengakhiri kontraknya dengan EXO,” belum ditanya, Lay sudah menjawab. “Berkas gugatannya sudah dikirim ke pengadilan Seoul hari ini,” lanjutnya.

“APA?!” seru beberapa member yang ada di sana. Mengundang beberapa member yang lain yang belum berkumpul.

“Yak! Yak! Kenapa kalian semua berteriak seperti itu?” omel Minseok yang baru bergabung. Diikuti dengan Chanyeol, Tao, dan Kai di belakangnya.

“Ada yang tahu, apa yang terjadi pada Luhan hyung? Kulihat dia mencoba menghubungi seseorang kemudian membanting handphone-nya, dan sepertinya dia menangis,” ujar Kyungsoo yang juga baru bergabung.

“Luhan hyung menangis?” tanya mereka bersamaan.

“Katakan, apa dia sudah tahu berita ini?” tanya Suho pada Baekhyun dan Lay.

“Berita apa?” tanya Kai, dia merasa linglung.

“Ya. Aku yang menyuruhnya membacakan artikel ini untukku. Aku merasa tidak enak, ketika ekspresi wajahnya berubah panik saat membaca artikel ini. Setelah itu dia pergi begitu saja,” jelas Baekhyun.

“Artikel apa?” tanya Minseok, dia juga merasa linglung.

“Kris… dia…” ucap Suho menggantung.

“Ada apa dengan Kris ge?” tanya Tao dengan panik. “Mana artikelnya?”

Lay menyerahkan iPad Baekhyun pada Tao yang segera mengambilnya dengan cepat. Pria bermata panda itu meng-scroll-up layar iPad Baekhyun.

“EXO Kris menggugat SM Entertainment dan ingin mengakhiri kontraknya dengan EXO,” bacanya. “Apa?!” serunya kemudian dengan cepat meng-scroll-down artikel itu.

“APA?!” seru beberapa member yang baru mengetahuinya.

“Kenapa dia melakukan itu?” tanya Tao sambil terus membaca artikel itu, kedua mata pandanya mulai berair.

Akhirnya, seluruh member yang ada di ruang tamu mengetahui isi dari artikel itu karena Tao tidak membacanya dalam hati.

“Kenapa dia melakukan itu di saat seperti ini?” tanya Suho. Membernya juga bertanya-tanya dalam pikiran mereka, wajah mereka tampak murung. Tao dan Sehun sudah sesenggukan.

“Aku akan menemani Luhan,” Minseok beranjak menuju ke kamar Luhan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Hanya terdengar sesenggukan dari Tao dan Sehun sampai pintu dorm mereka terbuka dan muncullah sang manager. Melihat keadaan itu, manager mengambil kesimpulan bahwa adik-adiknya sudah mengetahui kabar mengejutkan itu.

“Anak-anak,” panggilnya.

“Manager~”

“Hyung~”

Manager hyung mengambil tempat di samping Kyungsoo, “Aku tahu, ini mengejutkan bagi kalian, bagi kita semua. Aku juga baru mengetahuinya,” ujarnya.

“Apa ini semua benar, hyung?” tanya Kyungsoo yang sedang mengelus rambut Sehun—menenangkannya.

“Entahlah. Perusahaan sedang memastikannya di pengadilan. Mencoba menghubungi dan mencari tahu keberadaan Kris sekarang,” jelasnya.

“Lalu bagaimana dengan kami, hyung?” tanya Suho.

“EXO-K tetap jalankan jadwal, EXO-M tetap di dorm. Jangan membagi apapun di sosial media kalian!” tegas manager. “Ngomong-ngomong, di mana Xiumin dan Luhan?”

“Minseok hyung menemani Luhan hyung yang sedang shock,” jawab Chen.

Manager menghela napas berat, “Baiklah. Kalau begitu EXO-K member segera bersiap. Aku tunggu di mobil,” kemudia pria itu beranjak keluar dorm.

Keenam member EXO-K melangkah ke kamar masing-masing dengan lesu.

~~~

Di kamar Luhan.

Minseok merangkul pundak sahabatnya itu. Ternyata benar apa yang dikatakan Kyungsoo. Luhan sedang menangis. Handphone-nya masih tergeletak di lantai dengan kondisi baterei terlepas.

“Aku benar-benar tidak mengerti, Minseok-ah~” ucap Luhan dengan suara serak. Dia mulai kesulitan bernapas karena hidungnya tersumbat.

Minseok menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu dan membantu menghapus air mata Luhan dengan tissue. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Luhan menangis karena Kris. Dulu sewaktu trainee, Kris sering membuat Luhan menangis dengan tingkah kekanakannya. Hal itu sudah menjadi pemandangan yang biasa baginya.

Namun, kali ini berbeda. Ini masalah serius. Ini sama seperti satu tahun yang lalu ketika beredar kabar bahwa Kris keluar dari EXO. Saat itu memang Kris menghilang dari publik cukup lama. Saat itu, Luhan juga menangis seperti ini. Pada akhirnya, berita itu hanyalah hoax. Namun, bagaimana dengan berita kali ini?

~~~

Kabar mengenai keluarnya Kris dari EXO serta gugatan yang ditujukannya pada SM Entertainment menyebar dengan cepat. Mulai bermunculan rumor-rumor lain yang bisa dikatakan menjadi latar belakang kasus ini dan mendukung kebenaran kasus ini.

Fans EXO mulai menulis di beberapa fancafe EXO dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Di antara mereka ada yang bersedih, kecewa, dan marah. Fandom lain turut prihatin pada EXOfans.

Luhan membuka akun weibo-nya dan melihat banyak pertanyaan yang ditulis fans mengenai kasus ini. Dihelanya napas panjang dan mencoba menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Dia mengganti header weibo-nya menjadi gambar galaxy yang selalu menjadi ciri khas Kris di mata fans. Dia tersenyum masam dan langsung menutup akunnya.

“Di mana kau sekarang, Yifan?” gumam Luhan seraya membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

~~~

Semakin hari, kabar mengenai kasus Kris ini semakin meluas. Beberapa hari lalu, Luhan kembali menangis ketika menemukan postingan Kris dari weibo-nya. Yang ditulis tangan dengan huruf kanji dan diposting dengan format foto.

“I’m alright. I wish you all the best, and that thing will be even better for you guys.
Thanks to all of those who support me. Thanks for all your voices of support.
Wu Yi Fan will always be here.
2014.05.16”

Sebuah pesan singkat yang diartikan Luhan bahwa Kris tidak akan kembali bersama mereka.

Kesebelas member masih tetap berlatih untuk persiap konser pertama mereka. Perusahaan menyuruh mereka untuk fokus pada konser mereka yang akan segera dilaksanakan, dan tidak perlu memikirkan kasus ini.

~~~

Konser pertama EXO tinggal menghitung hari lagi. Mereka terus giat berlatih agar konser pertama mereka berjalan lancar.

Hari ini, latihan mereka selesai beberapa jam lebih awal. Manager bilang, mereka harus menjaga kesehatan agar tidak sakit saat hari H.

Kesebelas member memasuki dorm, kemudian menggunakan kamar mandi secara bergantian dan menyantap makan malam mereka. Kemudian mereka memilih berkumpul di ruang tengah sambil membicarakan tentang konser mereka. Di tengah pembicaraan mereka, terdengar bunyi bel dorm.

“Ah! Itu mungkin pizza yang kita pesan!” seru Tao.

“Kita, kan, tidak memesan apa-apa, hyung~” timpal Sehun.

“Biar aku yang membukanya,” ujar Luhan seraya beranjak. Dia melihat ke layar namun tidak ada siapa-siapa. Sekali lagi terdengar bunyi bel. Dengan ragu, Luhan membuka pintu dorm dengan pelan. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok tinggi yang sangat dikenalinya.

Kedua mata rusanya melebar, “Wu… Yifan?”

“Hai!” sapa orang itu dengan suara pelan.

Luhan membuka lebar pintu dorm dan segera memeluk sosok di hadapannya untuk membuktikan bahwa yang dilihatnya itu nyata.

“Wu Yifan?” gumamnya, suaranya terdengar agak serak. Sepertinya dia akan menangis.

Awalnya, Kris ragu ingin membalas pelukan Luhan, namun akhirnya dilakukan juga. Kedua pundak Luhan bergetar dalam pelukannya. Dia dapat mendengar suara isakan pria manis itu sekarang.

“Kau kembali?” tanya Luhan. Namun, tidak segera mendapatkan jawaban dari orang yang ditanyainya. Luhan melepas pelukannya dan menatap Kris. Tatapan sendu yang dia dapatkan dari pria itu.

“Eum, masuklah,” Luhan menarik lengan Kris dan menutup pintu di belakangnya. Kris menahan tangannya ketika Luhan akan mengajaknya ke ruang tengah.

“Ada apa?”

“HanHan, sebenarnya aku ke sini untuk…” Kris menggantungkan kalimatnya. Luhan menatapnya, menunggu kelanjutan kalimatnya.

Kris menghela napas berat, “Aku ke sini untuk mengepak barang-barangku.”

Mendengar itu, kedua mata rusa Luhan melebar, “Apa?”

Kris hanya menunduk. Tidak ingin melihat raut kekecewaan dari orang yang dicintainya.

“Jadi… kau kembali untuk pergi lagi?” tanya Luhan tak percaya.

Kris tidak menjawab. Dia merasa tidak perlu berbicara banyak lagi. Karena hal itu akan membuat Luhan semakin kecewa.

“Aku…” Luhan menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah. Dia menatap kedua mata Kris, “Kenapa kau melakukan semua ini, WU YIFAN?!” teriaknya. Dia tidak lagi dapat menahan air matanya. Kedua pipinya sudah dibasahi oleh air mata sekarang.

Teriakan Luhan tadi terdengar sampai ke ruang tengah. Kesepuluh member hanya saling tatap.

“Ada apa dengan Luhan hyung?” tanya Chen.

“Apa aku salah dengar? Sepertinya Luhan hyung meneriakkan ‘Wu Yifan’ tadi?” tanya Kyungsoo.

“Biar aku lihat,” Minseok beranjak dari duduknya.

“Aku ikut!”

“Aku juga!”

Tao dan Sehun mengikutinya dari belakang.

Betapa terkejutnya mereka bertiga ketika melihat sosok di hadapan Luhan. Pria tinggi berambut cokelat tua yang mereka kenal sebagai Wu Yifan atau Kris.

“Kris?”

“Kris ge!”

“Kris hyung!”

Kris mengangkat kepalanya dan melihat dua maknae itu berjalan ke arahnya dengan memberinya pelukan.

“Hyung, kau kembali!” itu bukan sebuah pertanyaan seperti yang dilontarkan Luhan tadi. Itu merupakan sebuah ucapan dari bibir sang maknae—Sehun yang bahagia melihat salah satu hyung kesayangannya kembali.

“Gege, aku merindukanmu~” ucap Tao. Tak jauh beda dengan Sehun, pria manja bermata panda itu juga sangat merindukan gege-nya.

Kris hanya diam. Pandangannya beralih pada Luhan yang menatapnya tajam dengan mata berair. Tanpa mengatakan apapun, pria manis itu meninggalkan lokasi. Sedangkan, Minseok hanya menatap mereka dengan bingung. Pada akhirnya, dia memilih mengikuti Luhan ke kamarnya.

“Ada apa, hyung?” tanya Chanyeol.

“Ada Kris di depan,” jawabnya dengan cepat kemudian masuk ke kamar Luhan.

Mereka semua hanya saling tatap. Mereka ingin memastikan sendiri apa yang dikatakan kakak tertua mereka, saat Tao dan Sehun membawa sosok yang dimaksud. Terdengar suara napas tertahan dari mereka. Terlalu terkejut dengan apa yang mereka lihat di saat yang rumit seperti ini.

~~~

Minseok hanya diam di tepi tempat tidur Luhan. Melihat sahabatnya yang sedang meredam tangisnya di atas bantal. Dia bingung harus mengatakan apa, jadi dia hanya menepuk-nepuk pundak Luhan.

“Dia bodoh, Minseok-ah~” akhirnya Luhan bersuara, dan suaranya sangat serak. Ketika Luhan mengangkat kepalanya, dapat terlihat wajahnya—terutama hidungnya—yang berwarna merah.

Minseok mengambil sekotak tissue dan memberikannya pada Luhan, “Tenanglah dulu, Lu. Setelah itu, katakan padaku, kenapa kau meneriakinya tadi dan tidak mengajaknya masuk.”

Luhan mengambil napas panjang sebelum berbicara, “Aku… aku sudah akan mengajaknya masuk… ketika dia mengatakan bahwa…”

“Bahwa…?”

“Bahwa… dia datang untuk mengemasi barang-barangnya,” setelah itu, tangis Luhan pecah kembali.

Minseok melebarkan matanya—yang sudah lebar itu—mendengar penjelasan Luhan. Dia tidak menyangka, Kris benar-benar serius kali ini.

“Apa?”

“Dia benar-benar bodoh, Minseok-ah. Untuk apa dia kembali jika pada akhirnya dia akan benar-benar meninggalkan kita,” ucap Luhan dengan suara serak, dia kembali kesulitan bernapas. “Meninggalkanku…”

“Dia pasti punya alasan sendiri. Dia sudah dewasa, Lu. Dia mempunyai hak untuk mengambil jalan mana yang akan dia tempuh,” ujar Minseok bijak.

Ada benarnya dengan apa yang dikatakan Minseok. Namun, Luhan masih belum bisa menerima keputusan Kris. Selama ini, dia terlihat baik-baik saja. Memang, beberapa hari sebelum berita itu beredar, Kris lebih pendiam dari biasanya.

“Kenapa dia tidak pernah menceritakan apapun? Dia terlalu tertutup, bahkan padaku,” gumam Luhan.

Keheningan meliputi atmosfer kamar Luhan cukup lama. Pria manis itu sudah mulai tenang. Tiba-tiba dia bangkit dari tempat tidurnya dan membuat Minseok terkejut.

“Ada apa, Luhan-ah?”

“Aku akan menanyakannya,” ucap Luhan, dia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. “Sudah cukup dengan sikap Cool Guy ataupun Myterious Guy-nya,” dengan itu, Luhan beranjak meninggalkan kamarnya menuju ke kamar Kris.

~~~

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya pada semua member, Kris pamit ke kamarnya untuk mengepak barang-barangnya. Maknae line mengikutinya sambil merengek agar Kris tidak meninggalkan mereka.

“Ge, kenapa kau memilih pergi? Apa kau sudah tidak menyayangi kami lagi?” tanya Tao sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipi dengan kasar.

Kris hanya menghela napas dan masih terus memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Kai yang awalnya hanya diam, akhirnya memilih duduk di tepi tempat tidur Kris dan mengeluarkan barang-barang yang sudah dimasukkan Kris dari koper.

“Apa yang kaulakukan, Kai?” akhirnya Kris bersuara.

“Kau tidak boleh pergi, hyung!” jawabnya sambil meneruskan kegiatannya.

Sehun naik ke atas tempat tidur Kris dan membantu Kai mengeluarkan barang-barang Kris dari koper. Kris yang melihat itu hanya menghela napas. Dia merasakan ada yang memeluk kakinya. Ternyata itu Tao.

“Jangan seperti ini, Tao,” ucapnya pelan.

“Kau yang jangan seperti ini, ge! Kami menyayangimu. Jadi, jangan pergi~” ucap Tao dengan suara serak. Mendengar ucapan Tao, Sehun ikut memeluk punggung Kris.

“Jangan pergi, hyung! Kalau kau pergi, tidak ada yang menuruti permintaanku lagi,” ucap Sehun.

“Bukankah Luhan selalu menuruti permintaanmu?” tanya Kris sambil sedikit melirik ke belakang.

“Terkadang Luhan hyung pelit padaku,” jelasnya.

“Aku mendengarnya, Oh Sehun.”

Keempatnya menoleh ke asal suara dan melihat Luhan yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Kris. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan pria manis itu.

“Luhan hyung~”

“Bisakah kalian bertiga memberi kami waktu?” tanya Luhan dengan pelan. Tentu saja pertanyaan itu ditujukan pada maknae line.

Ketiga maknae itu saling tatap sampai Kai memberi kode pada kedua rekannya agar keluar dari kamar. Mereka bertiga segera beranjak dan memberi tepukan pada pundak Luhan sebelum keluar kamar.

Setelah pintu ditutup oleh Sehun dari luar, Luhan mengunci pintunya dan menghampiri Kris yang kembali memasukkan barang-barangnya. Luhan meraih pergelangan tangan Kris agar pria itu menghentikan kegiatannya.

“Jelaskan padaku!” ucapnya dengan lembut. Namun, Kris masih biasa menangkap suara serak Luhan.

“Aku membuatnya menangis lagi,” batin pria tampan itu.

“Jelaskan alasanmu mengambil keputusan ini, Yifan. Jelaskan padaku, agar aku mengerti,” ucap Luhan sambil menatap kedua manik mata Kris.

“Aku…” Luhan sudah menajamkan pendengarannya, karena Kris akan berbicara dengan volume rendah.

“Tidak ingin kau mengetahuinya,” mendengar itu, tiba-tiba dada Luhan sakit.

“Aku tidak ingin membuatmu khawatir,” lanjut Kris seraya menghindari kontak mata dengan sosok di depannya.

“Justru aku akan semakin khawatir jika aku tidak mengetahuinya,” ucap Luhan, dia berusaha keras untuk tidak menangis lagi.

Kris tetap diam dan tanpa menatapnya. Melihat sikapnya, Luhan memilih menundukkan kepalanya. Dia merasa air matanya akan jatuh lagi.

“Selama ini, aku merasa sebagai orang yang paling dekat denganmu. Namun, ternyata masih banyak hal yang tidak kuketahui tentangmu,” ujar Luhan dengan pelan. “Selama ini, aku bisa melihat dan menjangkaumu. Namun, ternyata aku masih tidak bisa mengetahui misteri apa yang tersembunyi di balik sosok tampanmu,” Luhan tersenyum masam.

“Aku belum bisa mempelajari karakteristikmu dengan baik. Tapi, kenapa kau memilih mengakhiri semua ini?” tanya Luhan, mengangkat kepalanya. Ternyata Kris tengah menatapnya sekarang. “Apa kau juga akan mengakhiri hubungan kita, Kris? Yifan?”

Mendengar pertanyaan itu, dengan segera Kris menarik tubuh Luhan ke dalam pelukannya. Dia mendekat ke telinga Luhan dan mengatakan sesuatu dengan sangat pelan, hampir seperti bisikan.

“Hubunganmu dengan Kris akan segera berakhir,” ucapnya dan itu berhasil membuat dada Luhan sakit.

“Namun, Yifan akan selalu memikirkanmu. Dia akan selalu mencintaimu meskipun kalian tidak saling bertemu,” ucapan Kris kali ini membuat Luhan menangis.

Luhan membalas pelukan Kris, mencengkeram kemeja yang dikenakan pria itu. Dia membiarkan air matanya membasahi kemeja Kris. Dia ingin pria yang tengah memeluknya ini mengetahui apa yang dirasakannya sekarang. Dia akan menangis sepuasnya di dalam sana.

Telapak tangan Kris yang besar mengusap punggung Luhan yang terlihat rapuh. Meletakkan kepalanya di lekukan leher pria manis itu. Luhan tidak yakin, namun dia merasa pundaknya basah.

“Kau menangis?” tanya Luhan dengan suara serak.

Mendengar pertanyaan Luhan, Kris segera menghapus air matanya, “Tidak.”

Perlahan Kris melepas pelukannya untuk melihat wajah cantik Luhan. Dia bisa melihat air mata masih mengalir di pipi mulus itu. Dengan ibu jarinya, Kris menghapus air mata Luhan.

“Jangan menangis, HanHan.” Namun, Luhan tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.

Kris masih terus mengusap kedua pipi Luhan, kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium kedua mata indah itu. Dia merasa sangat menyesal karena membuat pemiliknya itu menangis karenanya.

Dengan mata terpejam, Luhan meresapi sentuhan bibir Kris di kelopak matanya. Dia berharap waktu berjalan lambat agar dia bisa lebih lama dengan sosok di depannya, sosok yang amat dicintainya.

“Jangan pergi, Yifan,” ucapnya dengan suara pelan.

“Maafkan aku,” dengan itu, Kris membawa salah satu tangannya ke belakang kepala Luhan dan membawanya mendekat, kemudian mempertemukan bibir mereka.

Air mata Luhan kembali mengalir. Dia membawa kedua lengannya melingkari leher Kris dan memeluknya erat, memperdalam ciuman mereka.

Ciuman itu penuh emosi. Menyalurkan seluruh perasaan yang mereka tahan selama beberapa hari terakhir. Ciuman itu terasa beberbeda bagi Luhan. Selain karena air matanya yang terus mengalir dan membuat ciuman itu terasa asin, Luhan juga merasa bahwa setelah ini dia tidak akan lagi bisa merasakan ciuman dari Kris dalam jangka waktu yang lama. Apa ini ciuman perpisahan?

Ciuman mereka berlangsung cukup lama. Baik Kris maupun Luhan, keduanya ingin melepas ciuman itu untuk menghirup oksigen. Namun, mereka memilih untuk meneruskannya. Sampai mereka mendengar ada seseorang di luar kamar yang berusaha membuka pintu. Dengan cepat Luhan melepas ciuman mereka. Keduanya terengah-engah.

Tak lama, pintu kamar terbuka dan tampaklah sosok manager mereka. Luhan menoleh dengan kedua mata melebar.

“Kris,” manager melangkah mendekat.

Mengetahui pergerakan itu, dengan sigap Luhan berbalik menghadap manager dan merentangkan kedua tangannya, berusaha melindungi Kris.

“Jangan mendekat, manager!” seru Luhan. Seruan itu mengundang perhatian kesepuluh member yang berada di luar kamar. Namun, manager masih terus melangkah.

“Aku bilang, jangan mendekat!” seru Luhan lagi. Kali ini volume suaranya lebih tinggi.

“Kenapa kau seperti ini, Luhan?” tanya manager, bingung dengan sikap Luhan.

“Aku tahu, kau akan memukulnya. Aku akan melindunginya,” ucap Luhan dengan tegas. Sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang, sudah pasti itu milik Kris.

“Tidak apa-apa, Han-Han,” ucapnya pelan.

“Aku sedang berusaha melindungimu, Yifan,” jelas Luhan, sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.

“Aku tidak akan memukulnya, Luhan. Aku hanya ingin berbicara dengannya,” ucap manager.

Luhan menoleh dengan tatapan tajam, “Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?”

“Tidak apa-apa, HanHan. Aku akan baik-baik saja,” mendengar ucapan Kris, pria manis itu hanya menunduk.

“Kalau begitu, bicaralah! Aku akan mendengarkan di sini,” ucap Luhan.

“Aku ingin berbicara empat mata dengannya,” jelas manager.

“Apa?!” tentu saja Luhan tidak setuju. Namun, Kris menggenggam tangan untuk meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja. Maka, dengan terpaksa Luhan keluar kamar dan menutup pintu. Setelah itu dia tidak beranjak satu inchi pun dari sana.

Di pikirannya berkecamuk banyak hal. Beberapa member menghampirinya dan mengatakan sesuatu untuk menenangkan pikiran. Awalnya dia berniat menguping pembicaraan Kris dengan manager di dalam sana. Namun, dia malah tidak berhasil mendengarkan apa-apa karena tidak berkonsentrasi. Sampai pintu terbuka dan manager keluar dari kamar, Luhan baru tersadar.

Luhan menatap manager dengan tajam. Hal itu membuat manager merasa tidak enak, “Kalau kau masih tidak percaya padaku, lihat saja sendiri. Aku tidak memukulnya, Luhan.”

Mendengar itu, Luhan segera masuk ke kamar dan menutup pintunya, tak lupa menguncinya. Dia melihat Kris sedang memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. Dengan cepat, Luhan menghampirinya dan menahan tangannya.

“Berhenti!” ucapnya. Namun, pria tampan itu mengacuhkan ucapannya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Melihat itu, Luhan kembali menangis.

Kris merasa sangat menyesal karena memperlakukan orang yang dicintainya seperti ini. Dia menghela napas berat dan memilih menutup kopernya. Meletakkannya di bawah, di dekat tempat tidurnya.

Dia kembali menghapus air mata Luhan yang terus mengalir dan memberi kecupan singkat pada bibirnya.

“Jangan menangis, HanHan,” ucapnya. “Maafkan aku.”

Namun, Luhan tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir. Sebenarnya dia sendiri juga sangat benci pada dirinya yang terlihat sangat lemah dan rapuh di depan orang yang dicintainya.

“Kau pasti lelah seharian ini. Ayo kita tidur,” ucap Kris.

“Apa kau akan tidur di sini?” tanya Luhan seraya menatap kedua manik mata Kris.

Kris hanya mengangguk dan melepas sandal rumah yang dipakai Luhan, dan sandal yang dipakainya sendiri, tentu saja. Setelah itu, dia membaringkan tubuh Luhan di atas tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya di samping tubuh pria manis itu.

Luhan segera memeluk pria tampan itu dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kris. Jujur, Luhan sangat merindukan momen seperti ini. Dia merindukan bagaimana dia bisa menghirup aroma tubuh Kris yang maskulin. Aroma yang bisa membuatnya terbius dan bisa tidur dengan nyenyak.

“Kau bodoh, Kris,” ucap Luhan pelan seraya memejamkan matanya. “Aku mencintaimu, Yifan,” lanjutnya sebelum pergi ke alam mimpi.

Mendengar itu, Kris mencium puncak kepala Luhan lama. Menghirup aroma manis yang dihasilkan oleh rambut hazel Luhan.

“Aku juga mencintaimu, HanHan. Sangat,” dengan itu, Kris menyusulnya menuju alam mimpi.

~~~

Esok harinya, Luhan kembali menangis ketika tidak menemukan sosok Kris di sampingnya. Bahkan di manapun di dorm. Ketika dia menanyakannya pada para member, mereka semua memberikan jawaban yang sama, tidak tahu. Dia pergi. Benar-benar pergi. Tanpa mengatakan apapun padanya.

_END_

A/N:

Hao! Entah kenapa setiap kali aku menulis cerita, selalu berakhir dengan aneh. Apa FF ini juga aneh? Maaf, karena aku membuat Luhan terlihat sangat lemah di sini.

Aku masih sedih. Karena pasti tidak akan ada lagi momen KrisHan berkeliaran. Padahal mereka sudah hampir bisa seperti YunJae dan HanChul. Padahal Kris belum bisa seperti Yunho yang menarik lengan Jaejoong dan mengenalkannya sebagai pacarnya. Padahal Luhan belum pernah crossdressing seperti Heechul kemudian bermanja-manja pada Hangeng.

Baik YunJae, HanChul, maupun KrisHan, semuanya ‘diceraikan’ perusahaan. Tragis seperti kisah Romeo-Juliette, meski gak mirip-mirip amat. Hah~ jadi curhat, kan!

Mohon abaikan paragraf sebelumnya dan mohon berikan komentar untuk FF Yaoi pertamaku yang ku-publish, keke~ Tengkyu!

DANGEROUS LOVE EXO-M VERSION PART 3

Image

Title                : Dangerous Love (EXO-M Version)

Author            : Ranifa Billy

Cast                :

Chen                         as         Junsu
Tao                           as         Changmin
Kris                           as         Yunho
Luhan                       as         Jaejoong
Xiumin                       as         Yoochun
Lay                           as         Yoochun
Jinyoung (OC)          as         Heebon
Sunyoung (OC)        as         Bomi

Genre             : Comedy/Humor, Romance, Horror(?), Absurd, Yaoi(?)

Rate               : T (Tao) *slap*

Length           : Oneshot 3 parts

A/N                : Fanfiction ini kutulis berdasarkan Banjun Dramanya TVXQ! saat masih berlima dengan judul yang sama, ‘Dangerous Love’. Bagi yang belum menonton Banjun Drama ‘Dangerous Love’, boleh menonton dulu jika tidak mendapatkan feel di fanfiction saya. Tapi jika tidak mau nonton juga tidak masalah. Sebenarnya hampir semua plot sama, hanya beberapa bagian yang kuubah menyesuaikan mood-ku. /plak/

Sebenarnya, aku membuatnya oneshot. Tapi aku tidak menyangka menjadi banyak lembar. Jadi, aku akan membaginya menjadi 3 bagian. Tapi tetap oneshot, keke~

Selamat Membaca~

Part 3

_CONTINUE_

Di ruang latihan menari, tampak keempat member EXO-M yang tersisa sedang berlatih koreografi yang baru. Sebenarnya hanya Lay dan Kris. Sedangkan, Xiumin dan Luhan sedang duduk-duduk atau lebih tepatnya mengobrol di pinggir ruangan.

“Apa?! Kris menyukaimu?!” seru Xiumin kelewat keras sehingga Luhan harus menutup mulut dari Big Brother EXO itu.

“Kenapa kau bicara keras sekali?!” gerutu Luhan.

“Ah, maaf,” Xiumin menggaruk kepala belakangnya.

Luhan melirik Kris sekilas dan kembali memfokuskan perhatiannya pada Xiumin, “Bukankah itu yang dibicarakannya denganmu dan Yixing saat di villa saat itu?”

“Oh, itu…” Xiumin menggantungkan kata itu. “Eum, ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berpikir kalau Kris menyukaimu?”

“Kau tahu, sikapnya padaku akhir-akhir ini sangat aneh. Itu membuatku merinding,”  jelas Luhan. “Kau tahu, tadi malam dia…” Luhan kembali teringat dengan kejadian semalam.

_That night…_

Luhan tampak terlelap dalam tidurnya. Sebenarnya dia masih stress memikirkan perubahan sikap Kris padanya. Namun, dia mencoba tidur tenang. Saat mengubah posisi tidurnya, tangannya tak sengaja mengenai sesuatu yang aneh di sampingnya. Itu tidak terasa seperti bantal atau bonekanya yang selalu menemani tidurnya. Luhan membuka matanya perlahan untuk memastika ‘sesuatu’ apa itu.

Betapa terkejutnya dia ketika matanya menangkap wajah tampan Kris yang terlihat sangat dekat dengan wajahnya. Luhan berteriak dan dengan spontan menendang Kris hingga terjatuh dari tempat tidurnya. Dengan cepat, dia menarik selimut dan memeluk bantalnya.

“Apa yang kau lakukan di atas tempat tidurku? Kenapa kau bisa ada di sini?” serunya kemudian melempar Kris dengan salah satu bantalnya.

Kris menangkap bantal itu dan mencoba kembali naik ke tempat tidur Luhan. Namun, pria manis itu segera memukulnya dengan brutal menggunakan bantalnya.

“Kenapa kau memukulku, Lu~?” tanya Kris sambil berusaha melindungi dirinya dari serangan Luhan.

“Kau yang kenapa?! Jangan naik ke sini!” seru Luhan sambil masih terus memukuli Kris. “Apa yang kau lakukan di kamarku?!”

“Berhenti memukulku, Lu~! Bagaimana aku bisa menjawab jika kau terus memukulku?” tanya Kris dengan suara memelas.

Luhan menghentikan pukulannya dan menatap Kris dengan awas.

Kris menghela napas lega dan duduk di tepi tempat tidur Luhan.

“Sudah kubilang, jangan naik ke sini!” seru Luhan. Dia sudah bersiap akan memukul Kris lagi dengan bantalnya.

“Ok. Ok. Aku duduk di bawah,” ujar Kris dengan pasrah. Luhan masih memandangnya dengan awas. Dia yakin, setelah ini dia tidak bisa tidur nyenyak.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanya Luhan, kali ini tidak dengan seruan.

Kris memandangnya dengan puppy eyes yang sama sekali tidak cocok untuknya, “Aku tidak bisa tidur, Lu~”

Luhan hanya diam namun kedua matanya masih menatap Kris. Waspada. /plak/

“HanHan, kau menganggapku sebagai apa?” pertanyaan yang keluar dari mulut Kris membuat Luhan terkejut. Dia kembali berpikir yang iya-iya. /plak/

“Apa ini? Apa dia akan menyatakan perasaannya padaku sekarang?” pikir Luhan. “Tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi.”

“Aish~ apa yang kau bicarakan?! Ini sudah malam. Aku mengantuk. Pergi sana!” seru Luhan dan kembali memberi Kris pukulan ringan di kepalanya, lalu berpura-pura tidur.

Kris menghela napas kecewa, hanya memandang Luhan yang memunggunginya. Dia memilih beranjak pergi. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar Luhan sebelum menutupnya.

“HanHan!” panggilnya.

Luhan berpura-pura tidak mendengarnya.

“Ayo bertemu di mimpi kita!” lanjutnya kemudian menutup pintu kamar Luhan. Mendengar itu, rasanya Luhan ingin menangis karena frustasi.

_Now…_

“Begitulah~” Luhan mengakhiri ceritanya.

“Kris benar-benar melakukan itu?” tanya Xiumin tak percaya.

“Ya. Apa yang harus kulakukan, Minseok-ah~?” tanya Luhan dengan sedih. “Bagaimana kalau dia benar-benar menyatakan perasaannya padaku?”

Belum sempat Xiumin menjawab, suara Kris menginterupsi mereka, “Yah! Yah! Yah! Apa yang kalian bicarakan? Kenapa dekat sekali jaraknya?! Kalian membuatku cemburu,” ucapnya seraya memisahkan Xiumin dan Luhan.

Luhan sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Kris.

“Apa yang kalian bicarakan, HanHan?” tanya Kris seraya menunjuk pipi Luhan. Hal itu membuat Luhan merinding. Dia hanya memasang senyum kikuk.

“Kris-ah,” panggil Xiumin. “Apa benar kau-” ucapannya terputus ketika mendapatkan gesture dari Luhan yang mengatakan untuk tidak menanyakannya pada Kris langsung.

Saat itu, mereka dapat mendengar suara manager hyung yang tengah memasuki ruang latihan menari. Dia sedang menjawab panggilan telepon yang sepertinya dari pihak kepolisian.

“Baiklah. Saya akan segera ke sana!” ucapnya sebelum mengakhiri panggilan telepon.

“Ada apa, hyung?” tanya Lay.

“Mereka bilang, mereka menemukan petunjuk baru mengenai keberadaan Chen dan Tao,” jawabnya.

“Benarkah?!” seru keempatnya tak percaya.

Setelahnya, mereka berempat bersama dengan manager hyung (tentu saja), pergi ke kantor polisi. Di ruang interogasi, polisi menunjukkan sepatu yang mereka temukan di bukit beberapa saat yang lalu.

“Itu sepatu milik Tao!” seru Lay dengan yakin.

“Kalian yakin dengan itu?” tanya polisi sekali lagi untuk memastikan.

“Ya. Kami sangat yakin,” jawab manager hyung.

“Kalau begitu, kami akan melanjutkan pencarian besok pagi,” ujar polisi itu.

“Apa tidak bisa dimulai hari ini?” tanya Xiumin hati-hati.

“Maaf. Sayang sekali,” dengan itu polisi beranjak pergi.

“Apa yang harus kita lakukan, hyung?” tanya Kris setelah mereka keluar dari ruang interogasi.

“Apa maksudmu? Kita hanya perlu menunggu hasilnya besok,” ucap manager hyung.

“Tidak bisa, hyung! Perasaanku mengatakan, mereka dalam bahaya. Kita harus segera menolong mereka,” ujar Lay.

“Lay benar, hyung. Ayo kita cari mereka sekarang,” tambah Xiumin.

“Aish! Tidak bisakah kalian bersabar? Kita serahkan semuanya pada pihak kepolisian. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kalian juga jika kalian ceroboh?” manager hyung malah mengomeli mereka. Padahal mereka masih di kantor polisi.

Keempat member hanya menundukkan kepala, tidak berani menjawab lagi.

“Tunggulah sampai besok,” dengan itu, manager hyung melangkah terlebih dahulu meninggalkan mereka.

“Kris-ah,” Xiumin menepuk pundak leader-nya.

“Baiklah. Kita harus mencari Chen dan Tao sekarang. Bagaimana?” tanya Kris meminta pendapat, dan mendapatkan anggukan dari ketiga membernya.

“Aku dan Xiumin hyung akan mencari di tempat ditemukannya sepatu milik Tao,” ujar Lay. “Kau dan Luhan hyung mencari di sekitar tempat ditemukannya topi milik Chen,” lanjutnya.

Mendengar itu, sebenarnya Luhan tidak setuju—mengenai dia harus mencari bersama Kris. Namun, saat dia ingin protes, Xiumin dan Lay sudah terlanjur beranjak pergi.

“Hati-hati,” ucap Kris.

Luhan masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika dia merasakan tangan Kris menggandeng tangannya.

“Baiklah. Ayo kita juga pergi, Lu!”

Luhan menarik tangannya dari genggaman Kris. “Kenapa aku harus pergi denganmu?” tanyanya.

Kris menghela napas dan menatap Luhan dengan serius, “Lalu? Kau akan pergi sendiri dengan kaki seperti itu?” tanyanya sambil menunjuk kaki Luhan.

Pria manis itu menatap kakinya yang masih nyeri jika dipakai berdiri terlalu lama. Tanpa menunggu jawaban dari Luhan, Kris membantunya berjalan menyusuri koridor kantor polisi.

~~~

Beralih ke nasib Chen dan Tao yang tengah diikat di tempat tidur oleh Jinyoung yang sudah menunjukkan sosok aslinya.

“Jinyoung-ssi, kenapa kau melakukan ini pada kami?” tanya Chen sambil menarik-narik tangannya yang terikat.

Seperti tidak mendengar pertanyaan Chen, Jinyoung masih terus mengikat, “Chen-ssi, sekarang kau adalah milikku. Selamanya,” ucapnya lalu beranjak.

“Jinyoung-ssi! Sadarlah! Kau menyukaiku. Aku juga menyukaimu. Jadi, jangan seperti ini!” seru Chen.

“Tch. Pembohong!” ucap Jinyoung dingin. “Kalau kau menyukaiku, kau tidak mungkin pergi dariku,” dengan itu, dia kembali melangkah keluar kamar dan mengunci pintu dari luar.

“Jinyoung-ssi!”

“Tidak ada gunanya, hyung. Dia tidak akan mendengarkan kita lagi,” ujar Tao.

Chen hanya menghela napas kasar dan masih terus berusaha melepaskan diri.

“Aku sudah tahu sejak awal kalau ada sesuatu yang aneh,” ucap Tao yang juga berusaha melepaskan diri. “Coba kalau kau mau mendengarkanku, hyung. Hal ini tidak akan terjadi!” lanjutnya.

“Aish, diam kau!” Chen ikut berseru. “Kalau kau bicara lagi, aku pastikan kau mati setelah ini.”

Di tengah pertengkaran mereka, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul sosok Sunyoung. Gadis itu segera membantu melepaskan ikatan di tangan Tao.

“Sunyoung-ssi!”

Gadis itu memberikan gesture agar mereka tidak berisik. Setelah melepaskan ikatan Tao, dia beranjak melepas ikatan Chen.

“Kalian sudah tahu jalan keluarnya, kan? Kali ini, jangan sampai tertangkap lagi,” ucap Sunyoung.

“Sunyoung-ssi, ikutlah bersama kami. Jika Jinyoung-ssi tahu bahwa kau membantu kami, kau bisa dalam bahaya,” ujar Tao. Chen mengangguk-angguk.

“Tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan eonni-ku sendirian,” ucap Sunyoung. “Cepatlah pergi!”

“Ayo pergi!” ajak Chen.

“Sebentar,” Tao melepaskan salah satu piercing-nya dan memasangkannya pada salah satu daun telinga Sunyoung yang kebetulan tidak memakai piercing. Hal itu membuat Sunyoung terkejut.

“Kami akan segera kembali dan membawamu pergi,” ucap Tao sebelum akhirnya pergi bersama Chen.

Sunyoung memandang kepergian mereka dan berharap semoga kakak perempuannya tidak menemukan mereka.

~~~

Chen dan Tao kembali menyusuri hutan yang gelap sambil sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan Jinyoung tidak mengikuti mereka. Baru beberapa meter, mereka dapat mendengar suara Sunyoung.

“Eonni, jangan seperti ini. Biarkan mereka pergi! Eonni~~!”

“Kita harus menolongnya, hyung,” ucap Tao dengan khawatir.

“Tidak. Kita cari bantuan terlebih dahulu. Kemudian kita tolong Sunyoung,” ucap Chen seraya menarik Tao agar bergegas.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka mencari jalan keluar. Namun, entah kenapa nasib sial terus menghampiri mereka. Jinyoung kembali menghadang mereka. Kali ini penampilannya lebih menyeramkan. Rambutnya berantakan dan tatapan matanya sangat tajam. Tak lupa tongkat kayu di tangannya.

“Jinyoung-ssi!”

“Brengsek!” umpat Jinyoung. “Kau tahu betapa aku menyukaimu. Kau tahu betapa baiknya aku merawatmu!” serunya.

Chen dan Tao saling pandang. Mereka sangat takut dan pesimis. Mereka sudah pasrah. Akan selamat atau kembali ditangkap Jinyoung.

“Kalian tidak akan pergi kemanapun. Tidak akan pernah!” seru Jinyoung, perlahan menghampiri Chen dan Tao yang ketakutan. Kemudian mengayunkan tongkat kayunya. Sebelum tongkat kayunya menghantam kepala Chen dan Tao untuk yang kedua kalinya, tongkat kayu yang lain menghantam kepalanya terlebih dahulu hingga dia terjatuh pingsan.

“Kris hyung!”

“Kris ge!”

Ternyata pelakunya, eh, pahlawannya adalah Kris yang datang pada waktu yang tepat bersama ketiga member yang lain.

“Chen!” seru Xiumin.

“Tao!” seru Luhan.

Kemudian mereka berhambur dalam sebuah pelukan teletubies. /plak/ Mereka tidak sadar jika Jinyoung terbangun lagi dan bersiap memukul mereka, dan sepertinya target pertamanya adalah EXO’s Little Deer. Kris yang pertama kali menyadarinya segera melindungi Luhan.

“HanHan!” pada akhirnya, dialah yang terkena pukulan dan terjatuh. Kelima member tekejut dengan apa yang telah terjadi.

Chen menghampiri Jinyoung dan mendorongnya hingga terjatuh ke jurang.

Kelima member mengerumuni Kris yang setengah sadar. Luhan meraih tangannya dan menggenggamnya.

“Hei, Kris! Sadarlah!” serunya dengan mimik khawatir seraya menepuk-nepuk pipi Kris dengan pelan.

Kris memandang Luhan dengan lemah, “HanHan…”

“Kris, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?” tanya Luhan dengan khawatir.

Napas Kris terdengar berat, “HanHan, ini… agak sakit,” jawabnya diakhiri dengan cengiran sebelum akhirnya matanya tertutup.

“Kris~~!” seru Luhan seraya mengguncang tubuh pria tampan itu.

~~~

Mereka berkumpul di pos polisi terdekat. Sementara Chen dan Tao menjelaskan apa yang terjadi pada pihak kepolisian, Luhan merekatkan plester—yang didapatkannya dari polisi—pada dahi Kris yang terluka. Sedangkan, Kris hanya menyandarkan kepalanya yang pusing pada pundak Luhan yang kecil. (Author: Dia tidak mati, reader-nim~)

“Apa? Rumah di tengah hutan itu? Tapi tidak ada yang tinggal di sana,” ujar salah satu polisi.

“Tidak. Ada kakak beradik yang tinggal di sana. Adiknya sedang dalam bahaya. Kita harus cepat menolongnya,” jelas Tao.

Mereka semua saling pandang sebelum akhirnya menuruti permintaan Chen dan Tao untuk menuju ke rumah yang dimaksud. Ketika mereka tiba di sana, keadaan rumah itu sangat berantakan. Tidak seperti ketika mereka tinggal di sana selama dua hari terkahir.

“Apa yang terjadi dengan tempat ini?” tanya Chen tak percaya.

“Apa yang terjadi? Kalian yakin, kalian berada di rumah ini selama dua hari terkahir ini?” tanya Lay memastikan.

“Ya~” jawab Chen dengan lemas.

“Eum~ tidakkah kalian salah mengenai ini?” tanya polisi.

“Tidak. Kami yakin,” ucap Chen lagi.

Tao berjalan ke sekeliling untuk menemukan petunjuk. Dia melihat sebuah foto yang tergantung di dinding, “Chen hyung! Lihat ini!”

Chen menghampirinya dan melihat foto yang ditunjuk Tao. Itu adalah foto Jinyoung dan Sunyoung.

“Ah! Dua gadis itu. Mereka tinggal di sini sekitar 15 tahun yang lalu,” jelas polisi. “Yang kakaknya punya masalah dengan pikirannya,” lanjutnya.

Chen dan Tao terkejut mendengar penjelasan dari polisi. Mereka kembali melihat foto itu dan menemukan sesuatu yang aneh. Mereka melihat, dalam foto itu Sunyoung memakai piercing yang diberikan Tao. Suatu hal yang sulit dipercaya memang.

~~~

Keesokan harinya.

Chen menghampiri Tao yang duduk melamun di kap mobil van mereka. Dia menepuk pundaknya pelan.

“Hyung~”

“Mereka pasti sangat sedih,” ucap Chen. “Baik mereka masih hidup… atau sudah meninggal…” ucapannya menggantung. Dia memandang Tao yang kembali berekspresi sedih, “Tao-ah, berpura-pura saja kita telah mengalami mimpi yang aneh,” lanjutnya diakhiri dengan senyuman.

Tao menatapnya dan mengangguk kemudian mengikuti Chen untuk menghampiri member yang lain.

“Kita tidak melupakan sesuatu, kan?” tanya manager hyung setelah mengecek semua barang-barang yang telah masuk ke dalam mobil van.

“Kenapa aku tidak melihat Kris hyung maupun Luhan hyung sejak tadi, ya?” tanya Chen.

Sementara itu…

Luhan duduk di sebuah bangku di halaman belakang villa sambil memegang sebuah memo. Dia membaca kembali memo tersebut untuk memastikan bahwa dia tidak salah baca.

Ada sesuatu yang ingin kukatakan.
Tunggu aku di halaman belakang villa.
-Kris

Pria manis itu mulai membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Entah kenapa dia sangat yakin bahwa Kris akan menyatakan perasaannya padanya. Setelah mengingat apa yang telah Kris perbuat untuknya. Dia juga sudah menyiapkan jawaban untuk itu.

Tak lama, Kris muncul dengan membawa sebuah paper bag. “HanHan!” panggilnya seraya menghampiri Luhan yang menoleh ke arahnya.

“Bagaimana dengan lukamu?” tanya Luhan seraya menyentuh dahi Kris yang diplester.

“Ah, tidak apa-apa. Aku mempunyai tengkorak yang kuat,” jawab Kris. Luhan tersenyum kecil mendengarnya.

“Eum, HanHan,” panggilnya. “Sangat sulit bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Aku-” ucapan Kris terpotong ketika tiba-tiba Luhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Kris.

“Cukup, Kris,” dengan itu, Luhan menarik Kris ke dalam pelukannya. Keagresifan Luhan membuat Kris tercengang. And everything get in slow motion, bagi Kris, keke.

“Aku tahu ini sangat sulit untukmu. Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan,” ucap Luhan. “Tapi aku tidak bisa menerima hatimu, Kris. Maafkan aku,” lanjutnya seraya mengeratkan pelukannya.

Butuh waktu cukup lama bagi Kris untuk mencerna apa yang sedang dibicarakan Luhan.

“Tapi, coba pikirkan, Kris. Dengan ini, kau tidak akan kehilangan teman baikmu,” lanjut Luhan.

Kris segera melepas pelukan Luhan untuk meminta penjelasan. “Ada apa denganmu, Lu? Apa yang sedang kau bicarakan?”

Luhan hanya tersenyum, “Aku tahu semuanya. Kemarilah! Aku akan memelukmu lagi, Kris.”

“Tidak. Aku sedang serius, Lu. Ada apa denganmu? Kau sangat menakutkan,” ucap Kris dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Takut, mungkin. /plak/

Keempat member beserta manager hyung akhirnya menemukan keberadaan mereka, dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Kris dan Luhan terlibat dalam sebuah hubungan yang tidak mereka mengerti.

“A-apa mereka saling mencintai?” tanya Chen sambil menatap ketiga member dan manager.

“Aku tahu semuanya, Kris. Kau menyukaiku, kan?” tanya Luhan memastikan.

“Ha? Apa kau gila? Kenapa aku harus menyukai sesama pria?” Kris balik bertanya.

“Apa?” Luhan memasang ekspresi tidak percaya. Apa Kris sedang mempermainkannya?

“Lalu, kenapa kau bersikap sangat—bahkan terlampau—baik padaku akhir-akhir ini? Dan apa yang ingin kau nyatakan padaku?” tanya Luhan lagi. Dia tidak suka Kris mempermainkannya.

“Oh, soal itu…” Kris kembali merasa ragu. Tapi dia harus mengatakannya sekarang.

Keempat member dan manager masih mengawasi mereka dari jauh, mencoba mendengar percakapan antara Kris dan Luhan yang tampak serius.

“Aku ingin mengatakan yang sebenarnya tentang ini,” ucap Kris sambil menyodorkan paper bag yang dibawanya.

Luhan menerimanya dan mengambil sesuatu di dalamnya. Betapa terkejutnya Luhan ketika menyadari bahwa itu adalah kamera DSLR-nya yang baru, dan dipenuhi dengan pita perekat di mana-mana.

“Kameraku!” serunya. “Kenapa bisa seperti ini?” tatapan matanya beralih pada Kris yang juga menatapnya dengan takut-takut.

“Eum, aku sedang mencoba menghapus foto-foto anehku di situ. Tapi, kemudian… itu jatuh, hehe~” jelas Kris dengan innocent.

“Jadi, waktu itu…” Luhan kembali teringat kejadian saat dia menemukan Kris di dalam mobil van dengan wajah gugup dan malah memberinya fanfiction yang menyesatkan pikirannya. /plak/

“HanHan, maafkan aku~” ucap Kris dengan memelas. Dia berjanji pada dirinya sendiri, hanya kali ini dia memasang wajah memelas.

“Apa kau tahu berapa harganya?!” seru Luhan. Wajah manisnya kali ini tidak manis lagi, pikir Kris.

“Aku rasa, aku harus lari sekarang,” gumam Kris kemudian berlari menghindari EXO’s Little Deer yang sedang mengamuk.

“Jangan lari kau, Wu Yifan! Dasar Naga tidak bertanggung jawab!” seru Luhan seraya mengambil sesuatu—apapun itu—untuk dilemparkan pada Kris.

Keempat member dan manager hyung menghela napas kecewa. Ending yang tidak mereka harapkan. Mereka memilih meninggalkan Kris dan Luhan agar menyelesaikan masalah mereka berdua. Akankah Kris selamat dari amukan Luhan? Ahahaha~ mollaseo~ ^^v

_END_

 

A/N:

Keut!

Ahahah~ apa ini? Ini tidak bisa kusebut karyaku karena aku mengadaptasinya dari Banjun Drama milik TVXQ! ketika mereka masih berlima. Tapi, bukan berarti aku menjiplak, man~

Alasan aku menulis ini dengan versi EXO M adalah karena hubungan Daddy-Mommy-ku a.k.a Kris dan Luhan yang semakin mesra. Itu mengingatkanku pada hubungan Yunho dan Jaejoong, keke. Kris dan Luhan adalah Yaoi couple penerus Yunho dan Jaejoong yang sekarang tidak muncul(?) karena mereka ‘bercerai’. /plaks/

Sebenarnya aku ingin menulis ini dengan memfokuskan pada sudut pandang Kris dan Luhan. Tapi, aku rasa, harus menulis tentang semuanya. Karena semuanya lucu. /plak/

Jadi, apa pendapat kalian tentang ini? Mungkin hanya itu catatan tentang saya. Apabila ada kesalahan maupun kekurangan, mohon saya diberitahu, keke~ ^^

KrisHan/KrisLu jjang!! *\(^.^)/* Pai!

 

A/N (2):

Aku menulis fanfiction ini kira-kira 2 minggu sebelum kasus Kris menggugat SM. Aku menyelesaikan ini dua hari sebelum kabar itu beredar. Aku berniat mempostingnya, namun tidak jadi ketika kabar itu beredar.

Notes-ku di atas aku tulis ketika menyelesaikan fanfiction ini.

Sebenarnya, aku masih bersedih dan tidak percaya. Sebagai KrisHan shipper, aku merasa sangat sedih. Aku mengatakan KrisHan seperti YunJae bukan berarti aku ingin mereka juga ‘diceraikan’ oleh perusahaan.

Oke. Mungkin di sini bukan tempat yang cocok untuk curhat. Terima kasih bagi reader-nim yang bersedia membaca karya saya. Sekian.

Dangerous Love EXO-M version part 2

Image

Title                : Dangerous Love (EXO-M Version)

Author            : Ranifa Billy

Cast               :

Chen                        as         Junsu
Tao                          as         Changmin
Kris                          as         Yunho
Luhan                      as         Jaejoong
Xiumin                      as         Yoochun
Lay                           as         Yoochun
Jinyoung (OC)          as         Heebon
Sunyoung (OC)        as         Bomi

Genre              : Comedy/Humor, Romance, Horror(?), Absurd, Yaoi(?)

Rate                 : T (Tao) *slap*

Length              : Oneshot 3 parts

A/N                    : Fanfiction ini kutulis berdasarkan Banjun Dramanya TVXQ! saat masih berlima dengan judul yang sama, ‘Dangerous Love’. Bagi yang belum menonton Banjun Drama ‘Dangerous Love’, boleh menonton dulu jika tidak mendapatkan feel di fanfiction saya. Tapi jika tidak mau nonton juga tidak masalah. Sebenarnya hampir semua plot sama, hanya beberapa bagian yang kuubah menyesuaikan mood-ku. /plak/

Sebenarnya, aku membuatnya oneshot. Tapi aku tidak menyangka menjadi banyak lembar. Jadi, aku akan membaginya menjadi 3 bagian. Tapi tetap oneshot, keke~

Selamat Membaca~

Part 2

_CONTINUE_

Setibanya di sana, Tao seperti melihat seseorang memasuki salah satu kamar di rumah itu. Karena penasaran, Tao menghampiri kamar itu dan mencoba membuka pintunya. Namun sayang, pintunya terkunci. Di saat yang bersamaan, Chen dan Jinyoung sudah kembali.

“Apa yang kau lakukan?” suara Jinyoung menginterupsi Tao.

“Ah! Aa~ Aku sedang mencari kamar mandi,” ucapnya beralasan. “Ah! Itu di sana rupanya,” dengan segera dia masuk ke kamar mandi.

Jinyoung memasang ekspresi penuh kecurigaan.

“Jinyoung-ssi~”

“Ne?” Jinyoung mengalihkan perhatiannya ke Chen.

“Aku lapar.”

“Ah, baiklah. Aku akan memasak. Kau tunggu di kamar saja,” ucapnya lalu beranjak ke dapur. Chen hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar.

Tao melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi dan bergegas masuk ke kamarnya.

“Hyung!” dia duduk di samping Chen yang akan berbaring.

“Ada apa?” tanya Chen, dia tidak jadi berbaring.

“Sesuatu yang aneh telah terjadi di sini,” ucap Tao dengan ekspresi serius. “Bukankah Jinyoung-ssi bilang dia tinggal sendirian?”

“Ya. Lalu?”

“Tadi, saat aku baru masuk, aku melihat seorang gadis lain di sini,” lanjutnya.

“Seorang gadis?”

“Ya. Dia masuk ke kamar di sebelah kamar ini,” ekspresi Tao masih tampak serius.

“Aish~ kau bilang begitu karena aku lebih akrab dengan Jinyoung, kan?” Chen menyipitkan matanya menatap Tao.

“Tidak, hyung. Aku sedang serius di sini!” bela Tao.

“Aish~ lalu kau pikir Jinyoung berbohong pada kita?” tanya Chen. Dia masih belum percaya dengan penjelasan maknae-nya.

Belum sempat Tao menjawab, pintu kamar mereka dibuka oleh Jinyoung. “Ada apa ini?”

“Jinyoung-ssi!”

“Apa benar kau tinggal sendirian di sini?” tanya Tao langsung pada intinya.

“Hah? Tentu saja,” jawab Jinyoung singkat. Namun, gadis itu tampak gugup.

“Kalau begitu, ada apa di kamar sebelah itu?” tanya Tao lagi.

Jinyoung tampak semakin gugup. Dia diam sejenak untuk mencari alasan yang tepat. “Ah, itu hanya ruang kosong. Sekarang menjadi gudang, jadi aku menguncinya.”

“Hah! Dengar itu!” Chen menjitak kepala Tao. “Jangan khawatir, Jinyoung-ssi. Terkadang, dia memang bodoh.”

Jinyoung tersenyum menanggapinya.

Namun, Tao tidak percaya semudah itu. Dia masih menaruh rasa curiga pada Jinyoung. Oleh karena itu, saat semua(?) sudah tertidur, Tao yang penakut melakukan investigasinya. Dia mengendap-endap keluar kamar untuk mengecek ‘sesuatu’ di kamar sebelahnya.

Saat baru memegang kenop pintu, dia mendengar suara langkah dan segera menengok ke asalnya. Dapat dia lihat, seorang gadis berdiri di tengah dapur. Hal itu membuatnya terkejut setengah mati. Sebenarnya dia ingin berteriak, tapi tidak jadi ketika gadis itu malah berlari meninggalkannya. Karena masih diliputi rasa penasaran, Tao mengikutinya dengan tertatih-tatih walaupun dia takut. Namun sayang, Tao sudah tidak melihat gadis itu tadi.

~~~

Besoknya, di studio. Keempat member yang tersisa masih menjalani jadwal pemotretan. Kini giliran Kris yang diambil gambarnya. Pria berdarah Chinese-Canadian itu berpose layaknya super model pada umumnya. Di belakang kameramen, tampak manager hyung yang menemani Xiumin menunggu giliran pemotretannnya.

“Hyung, apa ada kabar lain mengenai Chen dan Tao?” tanyanya.

Manager hyung hanya menghela napas berat. Dia segera beranjak pergi ketika mendapat panggilan telepon. Tak lama, Luhan datang dan duduk di sampingnya.

“Minseok-ah, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Tentu. Apa itu?”

“Eum~ begini. Kau tahu, di ruang tengah waktu itu, Kris-” belum selesai Luhan berbicara, suara televisi yang ada di sana mengalihkan perhatian Xiumin. Di televisi sedang menayangkan sebuah drama musikal.

“Chen sangat ingin berpartisipasi dalam drama musikal itu,” gumamnya lalu menghela napas panjang dan meninggalkan Luhan.

Sekali lagi, Luhan tidak mendapatkan jawaban bahkan sebelum dia bertanya. Hal itu membuatnya frustasi. Dia berjingkat ketika merasakan sesuatu yang dingin di pipinya. Dia menemukan wajah tampan Kris yang sedang tersenyum di belakangnya ketika menoleh. Pria bersurai cokelat tua itu menyodorkan minuman kaleng padanya.

“Kau haus? Minumlah!”

“Ah, iya~” Luhan menerimanya dengan ragu.

“Oh! Kenapa kau berkeringat seperti itu?” dengan sigap, Kris mengelap keringat yang mengalir di pelipis Luhan dengan sapu tangan yang dibawanya.

Sikap Kris membuat Luhan semakin merinding dan kembali berpikir yang iya-iya.

“Ke-kenapa dia melakukan ini? Mungkinkah…?”

Melihat senyum yang terpahat di wajah tampan Kris membuatnya berdebar-debar.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

Luhan segera tersadar dari pikirannya yang mulai ngawur terlalu jauh, dan dengan halus menyingkirkan tangan Kris dari pipinya.

“Jangan seperti itu,” ucapnya pelan dan beranjak meninggalkan Kris. Namun, sial! Karena terburu-buru, dia malah tersandung kabel.

And… everything get in slow motion~

Sebelum Luhan dapat mencium lantai, dengan sigap Kris menangkap pinggang pria manis itu dan menariknya. Sehingga membuat posisi Luhan berada dalam pelukannya, dengan kedua lengan Luhan melingkar di lehernya.

Bagi Luhan, everything get in more(?) slow motion. Dia bisa melihat Kris mendekatkan wajahnya.

“A-apa yang akan dia lakukan? Dia tidak berniat menciumku, kan?” pikiran Luhan mulai ngawur lagi.

Luhan perlahan memejamkan matanya, karena dirasanya wajah Kris terlalu dekat dengan wajanya.

“Lain kali, hati-hati,” suara berat Kris terdengar tepat di telinganya. Sehingga membuatnya kembali ke alam sadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari pria tampan itu.

Karena merasa awkward, Luhan segera meninggalkan Kris. Dia menyandarkan punggungnya di balik tembok, “Tidak ada keraguan lagi. Aish~ apa yang harus kulakukan~?” gumamnya.

~~~

Kedua mata panda Tao mengawasi setiap gerak-gerik Jinyoung yang sedang menjemur pakaian. Dia ingin memastikan sesuatu. Dia ingin memastikan bahwa ada yang disembunyikan oleh sosok gadis manis itu.

Jinyoung dapat melihat bayang-bayang seseorang di balik sprei putih yang dijemurnya. Dia tidak menyangka bahwa bayang-bayang itu milik Chen, ketika pria bersuara cempreng itu melepas salah satu penjepit sprei dan menampakkan sosoknya yang tengah membawa sebuket bunga—entah dari mana dia mendapatkannya.

“Hai!”

Jinyoung tersenyum manis saat menerima sebuket bunga itu. Sedangkan, Chen tersenyum lebar mengetahui bahwa gadis itu menyukai pemberiannya.

Dengan bersuka tanpa cita, Chen membantu Jinyoung mencuci kain-kain(?) kotor. Mereka berdua menginjak-injak(?)nya di dalam bak besar berisi air sabun dengan busa melimpah. (Author: Kenapa kayak iklan, ya?)

Busa-busa berterbangan(?) di sekitar mereka. Membuat suasana menjadi, wauw! /plak/

Jinyoung meniup busa sabun yang menempel di hidung Chen dan membuat pria itu tersenyum lebar. Suasana mendukung mereka untuk melakukan adegan dewasa. /plak/ Kissing scene, maksud saya. Namun, sayangnya, suara Tao merusak momen ini.

“Hyung!”

“Apa?!” tanya Chen sedikit membentak karena kesal momennya terganggu.

“Aku masih sangat penasaran dengan hal ini,” ujarnya. “Jinyoung-sii, ada seseorang yang menempati kamar itu, kan?” tanyanya to the point.

“Hah?”

“Yah, maknae! Sudah kubilang, tidak usah membahas itu lagi! Jinyoung-ssi bilang, kan, tidak ada apa-apa di sana. Kau itu kenapa, sih?!” seru Chen. Dia sangat kesal karena maknae-nya sangat menyebalkan.

“Jinyoung-ssi, ayo pergi!” tanpa menunggu respon dari Jiyoung, Chen menarik tangannya dan meninggalkan Tao yang menatap penuh rasa penasaran.

Tao tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mengawasi di belakangnya.

~~~

Dengan pergi ke gym akan membuat pikiranmu tenang. Mungkin itu yang ada di pikiran Luhan, atau mungkin, tidak juga. Pria manis itu tampak tidak tenang. Dipikirannya hanya ada Kris dengan sikap anehnya belakangan ini. Hal itu membuatnya frustasi, sampai suara monster—yang kemungkinan milik Kris—menginterupsinya.

“HanHan! Kau juga ke sini ternyata!”

Luhan menoleh dan mendapati Kris melambai padanya. Pria manis itu kembali dibuat terkejut dengan sikap aneh Kris yang lain. Tanpa berkata apa-apa, Luhan meninggalkan Kris. Sikap Luhan membuat Kris bingung. /plak/

“HanHan! Kau mau ke mana?” Kris segera mengikuti Luhan dan merangkul pundaknya.

“Ayo pergi stretching denganku. Ini sangat bagus untukmu,” celotehnya sambil membawa Luhan ke tempat Stretching.

Di tempat Stretching hanya ada mereka berdua. Sebisa mungkin Luhan menghindari kontak mata dengan Kris.

“Kau ingin aku membantumu?” tanya Kris seraya menghampiri Luhan.

Luhan terkejut bukan main ketika merasakan kedua tangan Kris berada di pinggangnya. Jantungnya berdebar-debar, keringat dingin mengalir di pelipisnya, dan dia merasa kesulitan hanya untuk menelan ludah. Dia menoleh ke belakang dan membuatnya semakin buruk. Wajah mereka sangat dekat.

Dengan cepat Luhan berdiri, masih menghindari kontak mata dengan Kris, “Ee… aku rasa, aku harus pegi.” Luhan berjalan cepat meninggalkan Kris yang kebingungan.

~~~

Di dorm…

Tampak Luhan yang masih frustasi, eum, semakin frustasi, memasuki kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin.

“Bagaimana ini? Jika ini terus berlanjut, EXO-M tidak akan seperti biasanya(?),” gumamnya. Dia menghela napas berat dan melirik ke sisi lain. Dia hampir terkena serangan jantung ketika melihat ‘penampakan’ Kris di pinggir pintu kamar mandi. Dan kalau Luhan tidak salah lihat, pria tampan itu melambai padanya dengan senyuman idiot. /plak/

“Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Luhan seraya menatap Kris horor.

“Kau tidak mengunci pintunya,” jawab Kris dengan innocent.

Saat Luhan akan bertanya lagi, eum, mungkin lebih tepatnya akan mengusir Kris, pria itu berkata lagi, “Kau mau mandi, HanHan? Aku bantu menggosok punggungmu, ya~” ucapnya menawarkan bantuan dengan wajah innocent.

“APA?!” seru Luhan sampai membuat telinga Kris berdengung.  Dia bisa gila jika, Kris bersikap aneh terus padanya.

Luhan segera melarikan diri dari kamar mandi. Namun, nasib sial kembali menimpanya. Dia tersandung kakinya sendiri ketika berlari. Hal itu membuat Kris yang melihatnya menjadi panik dan segera menghampiri pria manis itu.

“HanHan! Kau baik-baik saja? Yang mana yang sakit?” tanyanya bertubi-tubi.

“A-aku tidak apa-apa,” jawab Luhan sambil menahan sakit di kakinya.

“Apanya yang tidak apa-apa? Ayo naik ke punggungku!” suruh Kris.

“Tidak mau!” seru Luhan sambil mengelus-elus kakinya yang nyeri.

“Aish~” Kris mendesis mendengar jawaban Luhan yang keras kepala. Tanpa menunggu persetujuan Luhan, Kris menggendongnya ala bridal style yang membuat pria manis itu terkejut bukan main. Dengan cepat, Kris membawa Luhan ke kamarnya.

Di ruang makan, tampak Lay yang sedang mengamati makan malamnya. Dia kembali teringat pada Tao jika melihat makanan.

“Tao sangat suka makanan ini,” dia menghela napas berat sebelum melahap makan malamnya dan tidak mempedulikan teriakan Luhan yang meminta pertolongannya.

“Yixing! Tolong aku!” teriak pria manis itu yang tampak frustasi di dalam gendongan Kris.

~~~

Sinar bulan purnama menemani gelapnya malam. Tao dan Chen tampak terlelap dalam tidur mereka sampai tidak menyadari kehadiran seseorang di dalam kamar mereka. Sebuah(?) tangan mengelus pipi Tao dan membuatnya terbangun dengan terkejut ketika mata pandanya menangkap sesosok gadis duduk di tepi tempat tidurnya. Saat dia mencoba menyalakan lampu, gadis itu sudah pergi terlebih dahulu.

Karena takut, dia segera membangunkan Chen, “Hyung, bangun! Jongdae hyung!”

“Ada apa~?” tanya Chen masih dengan mata tertutup.

“Gadis yang kulihat waktu itu, tadi ada di kamar ini,” jelas Tao dengan mimik serius.

“Lalu kenapa~?” tanya Chen lagi. Matanya masih tertutup.

Kegaduhan yang dibuat Tao mengudang(?) Jinyoung masuk ke kamar mereka, “Ada masalah apa?”

“Jinyoung-ssi, katakan yang sebenarnya!” ucap Tao dengan lantang. “Ada orang lain yang tinggal di sini selain dirimu, kan? Kau tidak tinggal sendirian, kan?” Tao kembali menginterogasi gadis itu.

Chen yang sudah terbangung  menegur Tao yang dirasanya sudah keterlaluan, “Aish! Kau mulai membahas itu lagi. Kau itu-”

“Itu benar,” suara Jinyoung yang pelan mengundang perhatian Chen yang belum selesai mengomeli Tao.

“Eh?”

“Adik perempuanku yang sakit tinggal di kamar sebelah itu,” lanjutnya.

“Adik perempuanmu yang sakit?” Chen mencoba meyakinkan pendengarannya.

Jinyoung hanya mengangguk lemah dan kembali berujar, “Aku tinggal di tengah hutan juga karena dia.”

Chen hanya menghela napas mendengarnya.

“Chen-ssi, maafkan aku. Aku takut jika kau mengetahui hal ini, kau akan pergi,” ucap Jinyoung dengan raut menyesal.

Chen terdiam.

“Aku mohon, maafkan aku,” kali ini Jinyoung sampai duduk berlutut di tepi tempat tidur Chen. Hal itu membuatnya terkejut dan merasa iba.

“Jangan menangis, Jinyoung-ssi. Tidak apa-apa. Aku tidak marah,” ucap Chen pelan.

Tao mengamati Jinyoung dengan curiga. Dia merasa apa yang dikatakan Jinyoung tidak benar.

Setelah itu, Tao tidak bisa tidur. Dia merasa kurang puas dengan penjelasan Jinyoung tadi. Dia harus mencari tahu jawabannya sendiri. Dengan modal kemampuan beladiri dan nyalinya yang kecil /plak/ dia berjalan keluar kamar untuk menyelidiki kamar di sebelah.

Tao terkejut ketika mengetahui bahwa pintu kamar itu tidak terkunci. Dengan perlahan, dia mendorong pintu itu. Dan kembali terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ratusan gambar EXO terutama EXO-M tertempel di seluruh permukaan dinding kamar itu. Dia juga menemukan sebuah telepon di atas meja yang ada di kamar itu.

Kata-kata Jinyoung terngiang di pikirannya, dan membuatnya pusing.

“EXO M? Eum~ aku minta maaf karena aku tidak tahu jika kalian adalah artis.”

“Eum~ tapi tidak ada telepon di rumah ini. Sayang sekali.”

Tao tersandung kakinya sendiri dan tidak merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya yang diperban.

“Hyung! Bangun, hyung!” Tao mengguncangkan bahu Chen yang masih tertidur.

“Ngh~ ada apa lagi~?” gerutu Chen seraya bangun.

 “Cepat lihat ini, hyung!”

Chen melirik pada apa yang ingin ditunjukkan Tao dengan matanya yang masih mengantuk. Kedua matanya melebar ketika menyadari kaki Tao yang awalnya diperban ternyata tidak terdapat luka sedikitpun.

“Hei, kakimu-”

“Ini baik-baik saja. Coba cek lenganmu, hyung.”

Chen menatap lengannya yang diperban dan mencoba melepas perbannya seraya menggerak-gerakkannya. Seperti halnya Tao, dia juga tidak merasakan sakit yang luar biasa pada lengannya. Benar saja, lengannya juga baik-baik saja.

“Bagaimana biasa?” gumam Chen tak percaya.

“Ini rencana untuk memerangkap kita, hyung,” ungkap Tao dengan mimik serius. “Aku tidak yakin, tapi sepertinya gadis ini—Jinyoung—adalah penguntit,” lanjutnya. “Ayo kita segera pergi dari sini, hyung!”

Chen menatapnya dan mengangguk mantap.

Chen dan Tao mengendap-endap keluar rumah dan menutup pintu depan dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara. Mereka terkejut ketika mendengar suara Jinyoung dari dalam rumah dan memutuskan untuk segera berlari.

“Chen-ssi! Tao-ssi! Kalian ada dimana?!”

Kedua pria itu berlari menyusuri hutan yang gelap, hanya dengan bantuan sinar bulan purnama. Selagi terus melangkah, mereka berharap Jinyoung tidak mengikuti mereka, dan dapat selamat. Karena bingung harus lewat jalan yang mana, mereka samapi tidak sadar bahwa terdapat jebakan. Tao terjatuh, kakinya terjerat tali.

“Tao-ah!” seru Chen seraya menghampiri Tao.

Tao sendiri berusaha melepaskan jeratan itu dari kakinya. Chen mencoba membantu.

“Hyung, kau pergilah dulu. Cari bantuan!” pinta Tao.

“Tapi-”

“Cepatlah, hyung!”

Dengan ragu, Chen berdiri dan kembali berlari. Namun, baru beberapa langkah, dia kembali menghampiri Tao dan membantu melepaskan jeratannya.

“Kenapa kau kembali, hyung?” tanya Tao heran.

“Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian,” ucap Chen, masih berusaha melepaskan jeratan pada kaki Tao. “Kau, kan, penakut.”

Dalam keadaan seperti ini, Tao tidak mau protes. Dia hanya ingin segera pergi dari sini dengan selamat. Jadi, dia kembali berusaha melepaskan jeratan pada kakinya dengan bantuan Chen. Setelah berhasil, Chen membantunya berdiri dan berjalan. Namun, entah ini nasib buruk atau baik, mereka bertemu sesosok gadis di depan jalan mereka.

~~~

Jinyoung menyusuri hutan sambil terus memanggil Chen dan Tao. Sedangkan, kedua objek yang dicarinya mengintip dari balik bukit kecil tak jauh dari sana bersama dengan seorang gadis lain yang diketahui sebagai adik perempuan Jinyoung yang bernama Sunyoung. Setelah memastikan Jinyoung pergi menjauh,

“Kalian pergilah. Lewati jalan setapak ini sampai kalian melihat bukit. Kalian akan menemukan jalan besar setelahnya,” jelas Sunyoung, kembali mengawasi sekitar. Berharap kakak perempuannya tidak mengetahui hal ini.

“Aku akan pergi dan memastikan eonni-ku tidak mengikuti kalian.”

Chen meraih pundak Sunyoung sebelum gadis itu beranjak, “Tunggu! Jinyoung bilang, kau sakit. Apa itu benar?”

Sunyoung menghela napas panjang, “Kalau ada yang sakit, itu bukan aku. Melainkan eonni-ku.”

“Eum, pertanyaan lain. Kenapa kau terus muncul dihadapan kami sebelumnya? Dan setelah itu berlari,” kali ini Tao yang bertanya.

“Karena kalian dalam bahaya jika terus berada di sini. Aku ingin memberitahukan hal itu. Tapi aku tidak mendapatkan kesempatan, karena eonni selalu ada di sekitar kalian,” jelasnya. “Lebih baik kalian segera pergi sekarang. Berhati-hatilah!” dengan itu, Sunyoung meninggalkan mereka.

Chen masih tidak mengerti dengan kondisi yang menimpa mereka sekarang, “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Hyung, ayo kita pergi sekarang. Kita bisa memikirkan hal ini nanti,” ucap Tao seraya menepuk-nepuk pundak Chen.

Chen hanya mengangguk-angguk dan kembali membantu Tao berjalan. Saat hampir sampai di bukit yang dimaksud oleh Sunyoung tadi, nasib sial menghampiri mereka. Seorang gadis yang tak lain adalah Jinyoung berdiri menghadang mereka dengan sebuah tongkat kayu di tangannya.

Mereka memandang horor pada Jinyoung yang tersenyum jahat. Tanpa menunggu lama, Jinyoung mengayunkan tongkat kayunya dan memukulkannya pada kepala Tao dan Chen hingga membuat keduanya pingsan. Melihat itu, Jinyoung tertawa jahat dan dengan tidak berperasaan, gadis itu menyeret keduanya kembali ke rumahnya.

_NEXT_

Dangerous Love EXO-M version part 1

 

              Image :

Title                : Dangerous Love (EXO-M Version)

Author            : Ranifa Billy

Cast                :

Chen                        as         Junsu
Tao                          as         Changmin
Kris                          as         Yunho
Luhan                      as         Jaejoong
Xiumin                      as         Yoochun
Lay                           as         Yoochun
Jinyoung (OC)          as         Heebon
Sunyoung (OC)        as         Bomi

Genre              : Comedy/Humor, Romance, Horror(?), Absurd, Yaoi(?)

Rate                 : T (Tao) *slap*

Length             : Oneshot 3 parts

A/N                  : Fanfiction ini kutulis berdasarkan Banjun Dramanya TVXQ! saat masih berlima dengan judul yang sama, ‘Dangerous Love’. Bagi yang belum menonton Banjun Drama ‘Dangerous Love’, boleh menonton dulu jika tidak mendapatkan feel di fanfiction saya. Tapi jika tidak mau nonton juga tidak masalah. Sebenarnya hampir semua plot sama, hanya beberapa bagian yang kuubah menyesuaikan mood-ku. /plak/

Sebenarnya, aku membuatnya oneshot. Tapi aku tidak menyangka menjadi banyak lembar. Jadi, aku akan membaginya menjadi 3 bagian. Tapi tetap oneshot, keke~

Selamat Membaca~

Part 1

_START_

K-POP Idol yang sedang naik daun ini, kini kembali menjalani aktivitas sebagai sub-grup. Siapa lagi kalau bukan EXO. Kali ini, EXO-M sedang menjalani jadwal pemotretan untuk sebuah majalah. Lokasi pemotretannya di sebuah bukit. Meskipun sudah siang, para member masih bersemangat menjalaninya. Wajah-wajah mereka juga masih terlihat segar (tentu saja).

Nice!” seru fotografer.

“Ganti kostum berikutnya!” seru stylish noona.

Sementara para member berganti kostum dan di-touch-up, manager hyung mengecek kembali jadwal mereka.

“Hyung, nanti malam, boleh kami pergi jalan-jalan?” terdengar suara cempreng milik Chen.

“Aish~ tidak bisa. Nanti kalian malah hilang. Nanti malam kalian harus beristirahat. Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah kembali,” jelas manager hyung, membuat wajah Chen yang sedang di-touch-up menjadi kusut(?) lagi.

“Kita akan mengambil gambar untuk Lay, Chen, dan Tao terlebih dahulu,” ujar stylish noona pada manager hyung.

“Baiklah. Lay, Chen, Tao, bersiap-siaplah!” seru manager hyung.

Ketiga member yang terpanggil(?) segera menuju tempat yang ditentukan. Sementara ketiga member yang tidak berkepentingan(?) duduk menunggu.

Xiumin tampak bermain game di I Phone-nya. Luhan tampak asyik sendiri dengan kamera barunya. Sedangkan Kris tampak sangat mengantuk. Maka, dia menguap sepuas-puasnya. Momen itu tidak luput dari mata Luhan. Dan member super cute itu tidak membuang kesempatan berharga(?) itu. Maka dia mengambil gambar Kris yang sedang menguap sepuasnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” seru Kris ketika menyadari perbuatan usil Luhan. Sementara Luhan hanya menjulurkan lidahnya.

“Berikan padaku!” seru Kris, mencoba merebut kamera Luhan.

Namun, Luhan berhasil mengelak, “Tidak mau~”

“Biarkan saja. Itu kamera barunya, kau tahu?” Xiumin ikut menimpali kerusuhan(?) yang diciptakan couple itu.

“Ish! Dia mengambil gambarku yang aneh,” gerutu Kris. Kenapa dia jadi kekanakan?

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang atau sesehantu yang sedang mengawasi mereka. Akankah mereka baik-baik saja?

~~~

Malam pun tiba…

Sesosok hitam berjalan mengendap-endap(?). Bukan Kai ini. Bukan Kai. Sosok itu berjalan menghampiri mobil van EXO-M dan membuka pintunya. Tampaklah Kris yang terkejut bukan main.

“Oh! HanHan?”

Ternyata sosok itu adalah EXO’s Little Deer. Luhan masuk ke dalam mobil van dan duduk di samping Kris. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Ah~ tidak ada,” jawab Kris dengan kikuk. Dia tampak mencari sebuah alasan yang tepat. Kemudian dia teringat sesuatu.

“HanHan, apa kau sudah membaca ini?” tanya Kris dengan ekspresi mencurigakan sambil menunjukkan beberapa lembar kertas yang distraples.

Luhan menerimanya, “Apa ini?” dengan ekspresi bingungnya yang menggemaskan. /plak/

“Itu adalah fanfiction. Main cast-nya kita berdua. Ceritanya sangat menarik. Kau harus membacanya,” jelas Kris sementara Luhan mulai membolak-balik halamannya.

Kris mendekat ke telinga Luhan dan membisikkan sesuatu, “Kau tahu? Di situ kita menjalin hubungan yang seperti ‘itu’.”

“Hah? Apa maksudmu?” entah kenapa Luhan merasa merinding tapi dia penasaran.

“Baca saja jika kau penasaran,” ujar Kris. “Ah~ kemana jaketku pergi~?” Kris melangkah keluar mobil van dan meninggalkan Luhan yang kebingungan.

Daripada diliputi rasa bingung, Luhan memilih membaca fanfiction itu. Dengan serius. Pada akhirnya, Luhan mulai membayangkan adegan-adegan yang terjadi di dalam fanfiction itu.

_On Luhan’s Mind_

Kris mendorong Luhan ke dinding dan menguncinya. Luhan tampak membeku dan tak bisa menghindari tatapan mata Kris.

“HanHan,” panggil Kris. “Tidakkah kau mengerti dengan perasaanku padamu? Tidakkah kau merasakannya?” ucapnya penuh keyakinan.

“K-Kris, a-apa maksudmu~?” Luhan bertanya dengan gugup.

Kris membelai pipi mulus Luhan, meraih salah satu tangannya dan meletakkannya di atas dadanya.

“Kau,” ucap Kris. “Ada di sini.”

Luhan tersentak dengan pernyataan yang keluar dari bibir Kris.

“Kris…” dia merasa terharu dan segera memeluk Kris. Kris pun membalas pelukannya.

_End_

Luhan hampir terkena serangan jantung ketika membaca ending dari fanfiction itu.

“Apa ini?” tanyanya pada dirinya sendiri. Dia dapat merasakan pipinya memanas. “Siapa yang menulis hal seperti ini?”

Dia kembali tersentak ketika pintu mobil van tiba-tiba dibuka oleh Kris.

“HanHan, kau tidak tidur? Ayo cepat masuk!” serunya dengan wajah bahagia lalu kembali menutup pintu.

“Apa yang terjadi padanya?” Luhan kembali bertanya pada dirinya sendiri. “Jangan-jangan…” dia kembali teringat dengan adegan di fanfiction tadi dan kembali merinding.

“Ah, tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Ini hanya cerita. Tidak mungkin hal itu terjadi. Ya, ya. Benar, benar,” Luhan bergumam sendirian. Mencoba menenangkan dirinya dan ber-positive thinking.

Sementara itu, di kamar Chen-Tao. Tampak Tao yang sedang bermain game dan Chen yang sedang gelisah. Dia sangat ingin berjalan-jalan, tapi tidak ada yang menemaninya. Kemudian dia berpikir untuk mengajak sang maknae.

“Tao-ah, ayo kita pergi jalan-jalan!” ajaknya sambil duduk di samping Tao.

Tao melirik hyung-nya itu dengan malas, “Tidak bisa, hyung. Nanti manager bisa marah.”

“Ish! Kau sangat menyebalkan!” seru Chen dengan suara cemprengnya. “Kalau begitu, aku akan menyebarkan fotomu saat menangis ketakutan di kamar mandi ke internet agar semua orang tahu,” ancamnya.

“Hyung! Kenapa kau sangat jahat padaku?” rengek Tao.

“Makanya, temani aku jalan-jalan! Hanya sebentar. Hm?” pinta Chen.

Tao menghela napas panjang meladeni hyung-nya yang satu ini. Maka, dengan sangat terpaksa, dia menuruti permintaan hyung-nya itu sambil berpikir, siapa yang jadi maknae di sini.

Saat mengendap-endap keluar kamar, mereka melihat manager hyung yang tertidur di sofa. Mereka semakin memelankan langkah. Mereka segera bersembunyi di balik sofa ketika mendengar ada yang datang. Itu Luhan yang sedang gelisah. Dia tampak mengambil air minum dan meminumnya dengan cepat.

“Itu hanya cerita. Ya, cerita. Cerita, cerita, cerita, kereta, karat. Aish! Kenapa dengan lidahku!?” dia berjalan dengan kesal menuju kamarnya.

“Ada apa dengannya?” pikir Chen dan Tao.

“Ayo!” bisik Chen. Tao mengikuti di belakangnya.

“Kim Jongdae!” Chen dan Tao terperanjat ketika mendengar suara manager hyung. “Jangan ambil makananku!”

Chen dan Tao menghela napas lega. Ternyata manager hyung cuma mengigau. Mereka kembali mengendap-endap keluar.

“Ah~ indahnya~” seru Chen setelah berhasil keluar dari villa. Tao hanya mengikuti di belakangnya.

“Hyung, seperti yang kau bilang tadi, hanya sebentar,” ucap Tao. Dia terlihat sangat mengantuk. Namun, apa boleh buat.

“Iya, aku tahu!” jawab Chen dengan tenang.

Chen mulai mengocehkan banyak hal. Suara cemprengnya itu terdengar nyaring di keheningan malam. Sampai…

“Uwaa~ Mama~~”

Chen mendengar suara teriakan Tao dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tao menghilang.

“Tao-ah~~” panggil Chen dengan nyaring.

“Yah! Tao-ah, eodiya~~?” Chen kembali memanggil-manggil Tao, namun tidak ada jawaban dari maknae itu.

“Kemana dia? Kenapa tiba-tiba menghilang?” gumamnya.

Tiba-tiba ada yang menariknya hingga terjatuh ke jurang dan pingsan. Ternyata di sana juga ada Tao yang sudah pingsan. Apa yang terjadi pada mereka? Akankah mereka selamat? Akankah member yang lain dapat menemukan mereka? Semoga saja.

~~~

Keesokan harinya di villa.

“Kau bilang, Chen dan Tao menghilang?” tanya manager hyung dengan suara tinggi setelah mendengar laporan dari adik-adiknya.

“Mereka pasti pergi keluar tadi malam,” manager hyung tampak gusar. Keempat member yang tersisa tampak khawatir.

“Hyung, apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan mencari mereka?” tanya Lay dengan hati-hati.

“Tenanglah. Biar aku saja yang mengatasi ini. Kalian berempat sebaiknya segera bersiap-siap untuk kembali,” ujar manager hyung mencoba tenang.

“Tapi…” Lay ingin mengatakan sesuatu tapi manager hyung kembali menyuruh mereka untuk segera bersiap.

~~~

Di sebuah rumah berkayu di tengah hutan. Chen dan Tao tampak terbaring di ranjang di dalam rumah itu. Chen sadar lebih awal dan menyadari bahwa lengannya diperban, dia juga melihat kaki Tao yang diperban. Tak lama, Tao juga tersadar.

“Ini di mana, hyung?” tanyanya.

“Aku juga tidak tahu. Apa yang telah terjadi pada kita?” Chen balik bertanya.

Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dan muncul seorang gadis manis berambut sebahu, “Eoh, kalian sudah sadar?”

“Ah, tempat apa ini? Apa yang terjadi pada kami?” tanya Chen pada gadis itu.

“Kalian tidak ingat? Aku menemukan kalian tidak sadarkan diri di kaki bukit. Jadi aku membawa kalian ke rumahku ini,” jelas si gadis.

“Ah~ terima kasih banyak!” ucap Chen.

Gadis itu hanya tersenyum.

“Oia, ngomong-ngomong, bolehkah aku meminjam telepon? Orang-orang pasti sedang mencari kami,” ujar Chen.

Raut wajah gadis itu berubah murung, “Eum~ tapi tidak ada telepon di rumah ini. Sayang sekali.”

Chen menghela napas, “Aigoo~ apa yang harus kami lakukan? Manager kami pasti sangat khawatir,” gumamnya.

“Manager?”

“Kau tidak kenal kami? EXO-M dari EXO Planet. Enam dari duabelas alien tampan yang turun ke bumi untuk menaklukkan hati para gadis. Aku Chen Chen Chen, yang ini Panda Tao,” jelas Chen dengan senyuman lebar di bibirnya.

Tao hanya sweatdrop mendengar penjelasan hyung-nya itu. Sedangkan, gadis itu hanya menatap Chen tanpa ekspresi, tampaknya dia tidak mengerti dengan penjelasan Chen yang berlebihan.

“Kau benar-benar tidak tahu?”

Gadis itu terkekeh, “Kau sangat aneh.”

Dan tiga kata itu membuat seorang Kim Jongdae kehabisan kata-kata.

“Tapi, kalian tidak perlu khawatir. Suatu saat, pasti ada yang datang untuk mencari kalian,” ucap gadis itu diakhiri dengan senyuman manis yang membuat perasaan Chen berbiji-biji, eh, berbunga-bunga.

“Kalau kalian membutuhkan sesuatu, bilang saja padaku,” dengan itu, si gadis keluar kamar.

Chen masih memasang wajah idiot(?)nya setelah gadis itu pergi, “Yah! Tidakkah dia sangat manis?” tanyanya, meminta pendapat dari sang maknae.

“Dia adalah tipe idealku,” ucapnya masih dengan senyum idiot(?)nya.

Tao hanya mendengus, “Semua gadis di dunia ini kau sebut tipemu, hyung~”

“Ish! Diam kau!”

Tanpa mereka sadari, ada ‘sesuatu’ yang mengawasi mereka. Apakah mereka akan tetap baik-baik saja? Semoga ada yang cepat datang untuk menolong.

~~~

Kembali ke villa, dimana keempat member yang tersisa telah selesai mengepak barang-barang mereka dan bersiap untuk kembali. Tampak Lay yang sudah berada di luar villa sedang memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil.

Tak lama, Luhan keluar dari dalam villa. Dia berhenti sejenak ketika melihat salah satu adik kesayangannya. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian di ruang tengah tadi. Dimana…

Kris mendekatinya lagi dan menawarkan bantuan untuk mengemasi barangnya. Namun ditolaknya dengan halus.

“HanHan, mau kubantu mengemasi barang-barangmu?”

“Ah~ tidak usah,” dengan itu, Luhan beranjak meninggalkan ruang tengah. Namun, dia bersembunyi di balik tembok dan dapat melihat Kris mendiskusikan sesuatu dengan Xiumin dan Lay. Dia mulai berpikir yang iya-iya. /plak/

“Apa dia memberitahu Xiumin dan Lay, kalau dia menyukaiku?” gumamnya.

Luhan tampak menggigit lolipopnya, “Aku harus memastikannya,” beranjak menghampiri Lay.

“Yixing!” panggilnya.

“Luhan ge~” jawab Lay dengan suara lemah. “Kau tidak khawatir pada Chen dan Tao?”

“Aa~ tentu saja aku sangat khawatir,” ucap Luhan dengan kikuk. “Ee~ tapi, Yixing. Tadi, saat di ruang tamu-”

“Ah, lolipop ini!” seru Lay sambil merebut lolipop yang dipegang Luhan. “Ini kesukaan Tao,” ucapnya kemudian menghela napas berat karena teringat maknae-nya. Sambil mengemut lolipop itu, dia meninggalkan Luhan begitu saja .

Luhan hanya melongo tanpa mendapatkan kepastian apa-apa. Tiba-tiba Kris datang dengan manager hyung di belakangnya. Suara monsternya mengagetkan Luhan.

“Kau ingin aku meletakkan tasmu ke dalam mobil?” tanyanya sambil mengangkat tas Luhan.

“Ah, tidak usah. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Luhan dengan cepat sambil merebut kembali tasnya.

Tiba-tiba, paman penjaga villa datang dengan tergopoh-gopoh. Dia membawa sesuatu di tangannya. “Aku menemukan ini di kaki bukit,” lapornya. Dia menunjukkan sebuah topi rajut berwarna merah tua.

“Itu, kan, topi milik Chen!” seru Xiumin yang baru muncul diikuti Lay di belakangnya.

Mereka tampak terdiam beberapa saat, menerka-nerka apa yang terjadi pad dua member mereka yang hilang.

Sampai suara manager hyung memecah keheningan, “Eum~ paman, tapi kami harus kembali sekarang. Jika Anda menemukan petunjuk yang lain, tolong segera hubungi kami,” ucapnya.

“Ya, saya mengerti,” ucap paman itu.

“Ayo, kalian segera masuk ke mobil!” perintah manager hyung. Keempat member segera menuruti perintahya tanpa berkata apapun.

Manager hyung menghela napas berat sebelum masuk ke dalam mobil, “Semoga mereka tidak kelaparan,” harapnya.

~~~

Di rumah berkayu di tengah hutan.

Tampak Tao melahap makanannya dengan rakus. Sepertinya dia sangat kelaparan. Sedangkan, Chen tampak disuapi oleh gadis manis yang telah menolong mereka—yang diketahui bernama Jinyoung.

“Kalian benar-benar dari planet lain?” tanya Jinyoung, memasang muka polos sambil menyuapi Chen.

“Ah~ tidak. Itu hanya konsep yang dibuat perusahaan kami,” ucap Chen disela-sela acara mengunyahnya.

“Eum~ aku minta maaf karena aku tidak tahu jika kalian adalah artis,” ucap Jinyoung sedikit murung.

“Ah~ tidak usah memikirkan itu. Kami merasa berterima kasih padamu yang telah menolong kami,” ucap Chen diakhiri dengan senyuman lebar.

“Eum~ Jinyoung-ssi, berarti kau tinggal di sini sendirian?” tanya Tao tiba-tiba.

Raut wajah Jinyoung tampak tegang, “Hah? Eum~ i-iya. Begitulah,” jawabnya dengan kikuk. “Eum~ apa kalian tidak merasa penat? Apa kalian ingin berjalan-jalan? Pemandangan di sekitar sini sangat indah,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Ya, ya! Ide yang bagus!” seru Chen.

Udara di sekitar terasa sejuk dan menenangkan. Chen dan Jinyoung berjalan berdampingan, jauh di depan Tao yang tampak kesulitan berjalan dengan bantuan tongkat penyangga.

“Pasti sangat menyenangkan hidup dengan ditemani banyak orang seperti kalian. Aku merasa sedih karena hidup sendirian di sini,” ucap Jinyoung.

Chen tertawa kecil, “Sepertinya akan lebih menyenangkan bagiku jika aku bisa tinggal di sini bersamamu.”

Ucapan Chen barusan membuat pipi Jinyoung bersemu. Senyuman manis terbentuk di bibirnya. Dan hal itu kembali membuat Chen berdebar-debar. /plak/

“Jinyoung-ssi~” panggil Chen, menghentikan langkahnya. Jinyoung juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap Chen. Belum sempat Chen berbicara, Tao sudah datang dan mulai curhat(?)

“Kau tahu?” dia menatap Jinyoung. “Aku juga sedih.”

“Bagaimana bisa?” tanya Jinyoung dengan wajah polosnya.

“Hidup sebagai seorang maknae,” Tao mendesis setelah mengatakan itu. “Kau tahu? Betapa sedih dan beratnya itu?”

“Hah?”

“Aish~ tidak usah mendengarkan dia,” gerutu Chen sambil mendorong pelan bahu Tao. “Jinyoung-ssi, apa kau ingin mendengarkanku bernyanyi?”

Jinyoung hanya tersenyum menanggapinya. Itu dianggap Chen sebagai jawaban iya. Tanpa ada yang menyuruh, dia mulai bernyanyi. Sementara Chen sibuk menghayati lagu yang dinyanyikannya dan Jinyoung sibuk mengagumi suara Chen, Tao menirukan gaya menyanyi Chen dengan sangat buruk.

Setelah Chen selesai bernyanyi, Tao menghela napas lega dan memasang wajah meremehkan kemampuan bernyanyi hyung-nya.

“Apa Tao-ssi juga bisa bernyanyi?” tanya Jinyong tiba-tiba.

“Ah~ aku tidak bisa bernyanyi. Spesialisasiku di Rapp. Aku juga bisa Wushu,” ucap Tao dengan bangga.

“Aish~ kau tidak perlu mempercayainya, Jinyoung-ssi. Dia saja takut serangga. Ayo kita jalan lagi!” Chen menarik tangan Jinyoung dan meninggalkan Tao yang tidak percaya dengan sikap hyung-nya barusan.

“Aish~ mungkin sebaiknya aku kembali dan tidur,” Tao berjalan kembali menuju rumah berkayu.

_NEXT_